Tampilkan postingan dengan label jajaran kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jajaran kata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Oktober 2019

Waktu Bukan Masalah

Waktu bukanlah masalah walau untuk sebagian orang waktu adalah "masalah". Mengapa demikian? Dalam film-film atau kehidupan nyata saya sering mendengar percakapan ketika seseorang tersudut,
"Masalahnya gak ada waktu lagi!"
"Oh, maaf. Saya tidak punya waktu!"
See?
Waktu adalah masalah.

Pada hakikatnya waktu berjalan dengan sendirinya. Sesuatu yang menggelinding, melaju atau apa pun istilahnya...waktu tidak bisa dihentikan, tidak bisa diputar ulang, terus bergerak, maju ke depan. Hanya ke depan.

Kita tidak pernah mempunyai waktu, namun waktu selalu ada. Hanya Allah swt Yang Mahamenguasai waktu, Allah yang menciptakan waktu, Allah yang memiliki waktu. Bahkan Allah swt banyak bersumpah dengan waktu: WALLAIL, WADH DHUHA, WAL ASHR, WAL FAJR...dan banyak waktu lainnya dalam AlQuran yang tidak mungkin saya tulis semua.

Allah menciptakan waktu semata-mata agar digunakan manusia untuk beribadah. Allah bersumpah demi waktu ashar, "Sesungguhnya manusia itu ada dalam KERUGIAN, kecuali orang-orang yang beramal soleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dengan sabar."

Ketika manusia disibukkan dengan pekerjaannya dan selalu diburu 'deadline', dia berharap dalam satu hari waktu bisa diperpanjang. Tidak hanya 24 jam (23 jam 56 menit actually) tapi mungkin lebih. Lagi-lagi, manusia dipermainkan WAKTU. So, kita menggunakan waktu untuk apa sih? Terkadang sebagian besar waktu kita terbuang untuk bermain gadget (di sela-sela pekerjaan), hang out dengan teman (sambil bawa gadget), dan...tidur. Akhirnya si "deadline" itu jadi akrab dengan kita. Padahal bila kita mau mengatur waktu dengan benar, tak ada dedlayn dedlaynan.

Seperti saya bilang di awal, waktu bukanlah masalah. Tak ada manusia yang kehabisan waktu, tak ada yang tak punya waktu. Kalau pun ada yang bilang,"I have no time!", saya gak punya waktu...hey, where have you been? Ke mane aje, lo?
Syukuri hidupmu, perkuat iman bahwa hanya Allah yang memiliki waktu. Manfaatkan waktu hidup dengan banyak sedekah, silaturahmi terutama, dirikan salat jangan cuma mengerjakannya. Lalu bersabar. InsyaAllah waktu akan terus ada. InsyaAllah kita tidak akan pernah kekurangan waktu. InsyaAllah waktu tak akan pernah jadi masalah sampai kita benar-benar KEHABISAN waktu untuk menghirup udara dunia.

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui atau mengajari siapa pun Hanya mengingatkan diri sendiri juga untuk pemanasan karena sudah lama tak menulis.
Makasih untuk menyempatkan diri membaca.
Semoga bermanfaat.

Selasa, 16 Agustus 2016

Upacara Kemerdekaan


Ini tulisan lama yang seharusnya saya posting tahun lalu, 17 Agustus 2015.
Semoga tetap menginspirasi.


"Kemarin sore Aldi bilang kalau dia dan teman sekelasnya sepakat untuk tidak mengikuti upacara peringatan kemerdekaan RI ke-70. Sepertinya bukan hanya Aldi yang "malas" untuk ikut upacara. Banyak pelajar lain dan bahkan kita pun malas untuk mengikutinya.

Lalu saya bertanya, "Apa kamu lupa sama cerita uyut kemarin, Al?"
Hanya dengan pertanyaan itu Aldi bersemangat untuk ikut upacara peringatan kemerdekaan. Bahkan berusaha meyakinkan temannya untuk hadir pula.

Selasa sore tanggal 11 Agustus 2015, kami (saya, Aldi dan seorang teman Aldi) mendengar kisah perjuangan kakek saya melawan penjajah. Kakek saya yang saat ini berumur lebih dari 92 tahun merupakan saksi dan pelaku perjuangan melawan penjajah. Di usianya sekarang beliau merasakan kekejaman tentara Belanda serta bagaimana kejinya tentara Jepang.

Beliau melewatkan masa kanak-kanaknya untuk belajar mengaji sebab di usia 5 tahun harus menjadi kurir tentara Indonesia. Beliau harus merelakan keinginannya menyelesaikan sekolah rakyat karena harus jadi mata-mata demi perjuangan kemerdekaan. Beliau bercerita bagaimana sibuknya seorang bocah 5 tahun ikut mengupayakan suksesnya Kongres Pemuda. Padahal kongres itu dilaksanakan di Jakarta, dan bocah 5 tahun yang saya dengarkan ceritanya itu harus melindungi wakil pemuda Jawa.

Bocah kecil anak pedagang sapi yang harusnya bisa sekolah tinggi malah terpisah dari orangtuanya karena perjuangan. Lalu kita yang kini menikmati hasil perjuangan beliau malah malas hanya untuk berdiri selama kurang lebih satu jam melaksanakan upacara. Sungguh sangat tidak adil untuk mereka walau saya tahu mereka berjuang tanpa pamrih.

Kakek saya tidak pernah menuntut pemerintah membalas jasanya walau saat ini hidup seadanya. Beliau hanya terus bersyukur saat bercerita karena masih bisa menikmati hasil perjuangannya. Padahal ketika muda beliau pernah merasakan moncong senapan laras panjang milik tentara Belanda menempel di keningnya. Hanya karena takdir beliau saat ini masih sehat. Beliau pernah merasakan siksaan dan penjara yang lembab karena tidak mau bercerita di mana markas tentara Indonesia. Dan kita tidak malu menyianyiakan waktu tanpa melakukan hal bermanfaat untuk mengisi kemerdekaan? Sungguh ironis.

Kakek terlalu sering melihat bagaimana orang-orang bergelimpangan di depannya karena senjata penjajah. Saya sendiri mual mendengar ceritanya. Tapi beliau tidak patah semangat, walau menyadari suatu saat nanti beliau yang mungkin mati tertembak.

Kita saat ini gembira karena merayakan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, dulu juga kakek merasa gembira bagaimana idolanya memproklamirkan kemerdekaan negara ini 70 tahun yang lalu. Beliau gembira karena tentara Jepang yang merenggut seluruh harta bendanya yang mencapai 600 gulden, bisa dikalahkan, walau pun beliau sadar harta itu tak bisa kembali. Tapi beliau bersyukur sebab anak-anak dan jiwanya bisa selamat dan dapat menikmati kemerdekaan.

Sebagai generasi muda yang tinggal enaknya menikmati perjuangan ada baiknya mengikuti upacara kemerdekaan untuk menghargai jasa para pahlawan yang dengan ikhlas mengorbankan jiwa, raga dan harta mereka. Cinta tanah air dan bangsa harus terus ditanamkan agar pengorbanan para pahlawan tidak sia-sia. Isi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang bermanfaat untuk melanjutkan cita-cita para pahlawan.

Khususnya kamu, Al. Jadikan uyut bangga sama kamu. Jadikan pengalaman uyut sebagai motivasi untuk terus berprestasi. Kalau dulu uyut berjuang mewujudkan Indonesia merdeka, sekarang kamu harus bisa membuat harum Indonesia. Minimal kamu berdiri tegap dan khidmat mengikuti Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dirgahayu negeriku.
Terima kasih para pahlawan.
Terima kasih kakek Carwan Wijaya Kartareja

Cipaganti, 16 Agustus 2015."

Dirgahayu 71 negeriku. Aku tetap bangga menjadi anak Indonesia!

Rabu, 22 Juni 2016

ANAK adalah INVESTASI DUNIA dan AKHIRAT


Anak merupakan anugrah terbesar yang Allah berikan untuk makhlukNya. Anak dapat berfungsi sebagai penerus keturunan, juga untuk melestarikan suatu spesies agar tidak punah. Begitu pun dengan anak manusia.

Bagi saya, anak bukan sekedar mahakarya hasil hubungan biologis antara ayah dan ibu. Tapi anak adalah individu yang dititipkan Allah yang menjadi amanat bagi orangtua untuk dibimbing dan dibina menjadi pribadi yang lebih baik. Anak, merupakan investasi bagi orang tua.

Karakter orangtua dapat dilihat dari tingkah laku anak, sebab anak selalu meniru tingkah orang yang paling dekat dengannya. Dan yang paling dekat, tentu saja orangtua. Di situ investasi awal kita terlihat. Anak bisa menjadi jalan bagaimana orangtua membimbing dan mendidiknya. Anak bisa membawa nama baik orangtua, juga dapat membanggakan orang-orang di sekitarnya. Tapi anak pun bisa menjadi bumerang bagi orangtua.  Semua bergantung dengan cara mendidik dan membimbing mereka.

Kedekatan orangtua dengan anaknya dapat mengendalikan tingkah laku anak.  Apalagi jika didukung dengan bimbingan agama. Siapa sih yang tidak menginginkan anak yang cerdas, sopan, ramah, berprestasi dan soleh? Semua pasti menginginkannya. Hal tersebut kembali bagaimana cara orangtua membimbing mereka. Setiap didikan orangtua berpengaruh besar bagi kehidupan anak di masa depan.

Tapi ingat, jangan sampai kecintaan dan kasih sayang kita membutakan. Apa yang kita berikan jangan melebihi kecintaan kita pada Allah swt. Justru semua yang kita lakukan harus didasarkan ibadah dan mencari ridho Allah swt. Oleh karena itu biarkan anak merasa  nyaman untuk bercerita apa saja, sebagaimana kita merasa nyaman mengadu dan bercerita apa saja pada Allah swt.

Sebagai orangtua kita perlu berhati-hati dalam pengasuhan anak pada masa perkembangannya. Sebagian besar permasalahan anak disebabkan oleh kesalahan dan ketidaktahuan orang tua memperlakukan mereka. Karena itu, sikap kita pada anak sebaiknya:


  • tegas, tapi lembut
  • tidak memaksa, tapi mengerti
  • tidak melarang, tapi mengarahkan
  • tidak menyalahkan, tapi membangkitkan semangat

Sempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak. Tunjukkan kasih sayang kita dengan perhatian, bukan memberi hadiah berlebihan. Jarak dan waktu seharusnya tak jadi penghalang untuk menunjukkannya. Hal kecil dapat dianggap besar baik dalam situasi positif maupun negatif. Perhatian sekecil apapun dapat membantu orangtua dalam mendidik anak.

Beri dukungan untuk pilihannya. Beri pujian untuk prestasinya. Beri ampunan untuk kesalahannya. Lebih banyak memuji prestasinya akan membuat anak lebih baik ketimbang selalu mengkritik dan mengoreksi kesalahannya.

Bersikap demokratis setiap mengambil keputusan. Beri kepercayaan kalau mereka mampu melakukan suatu hal. Ajari mereka untuk dapat bertanggung jawab pada apa yang dipilih dan dilakukannya. Jangan pernah menjatuhkan harapannya.
Jangan melakukan kekerasan fisik, sebab itu bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Kekerasan tidak hanya akan menorehkan luka pada fisik, tapi juga jiwa mereka. Tentu saja hal tersebut dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan jasmani serta emosi mereka.

Jadilah sahabat saat dia curhat. Jadilah guru tempat dia bertanya. Jadilah ibu tempat dia mengadu. Jadilah ayah tempat dia berharap. Jadilah orangtua yang asyik buat mereka, yang mengerti mereka sesuai keadaan dan jamannya.

Ingatlah bahwa anak adalah investasi dunia dan akhirat.

Bandung,
25 Desember 2014
20.48

Jumat, 25 Januari 2013

Agama yang Baik?

Ketika saya diajukan satu pertanyaan, "Agama yang paling baik apa?"

Di madrasah saya dapat dengan leluasa menjawab pertanyaan itu disertai dengan dalil naqli yang ada dan tentu saja dapat dipercaya. Meyakinkan murid-murid saya agar tidak pernah berpaling walau maut taruhannya. Memberi mereka pengertian bahwa Tuhan tidak pernah tidur, tidak pernah lupa, dan segala sesuatu di sisiNya ada ukurannya. Memberi gambaran pada mereka tentang siapa calon penghuni surga dan neraka kelak. Sehingga pertanyaan itu dapat terjawab dan murid-murid saya semakin yakin untuk apa mereka hidup, karena siapa mereka hidup, dan akan kemana setelah mereka hidup

Lalu ketika saya berada di dalam kelas yang berisi anak dengan berbagai keyakinan pertanyaan itu kembali muncul. Maklum lah. Namanya juga anak-anak, selalu membandingkan dan merasa dirinya paling benar. Jawaban saya di tempat ini tentu saja tidak akan sama dengan jawaban saya di dalam madrasah. Bukan saya berbohong. Naudzubillah. Tidak juga mendiskreditkan satu keyakinan atau menyamaratakan keyakinan. Jawaban yang harus bisa diterima oleh setiap anak dengan keyakinan yang telah mereka warisi dari orang tua mereka.

Jawaban yang saya kemukakan harus bijaksana dan tidak menyinggung siapapun walau mungkin tidak akan memuaskan pihak manapun. Agama itu baik, sebab membawa keteraturan. Punya keyakinan itu bagus, sebab mendatangkan kedamaian. Apalagi keyakinan yang dipenuhi dengan cinta kasih dan saling menghormati.

Apapun keyakinan itu yakinilah, tanyakan sendiri pada hati anda maka di situ terdapat jawaban yang paling tepat. Hidayah, penerangan akan muncul ketika kita mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Kebenaran tidak akan pernah tertukar. Tuhan, Penguasa alam semesta yang Esa akan menuntun pada kebenaran itu sehingga kita benar-benar yakin pada apa yang kita anut.

Saya muslim, saya yakin pada Allah SWT Tuhan yang satu, penguasa langit dan bumi beserta isinya. Jadi yang baik itu kita selalu bersyukur pada apa yang telah Tuhan beri, melaksanakan segala perintahNya, dan menjauhi semua laranganNya.

Rabu, 09 Mei 2012

Ijinkan aku

ijinkan aku bersenandung sekedar
luapkan rindu yang tak terbendung

ijinkan aku menatapmu
nikmati keindahan yang Tuhan cipta

ijinkan aku tersenyum
sekedar membuatmu bahagia
 
ijinkan aku mengingatmu
sebab hanya itu yang saat sekarang kumiliki
untuk tetap menghidupkanmu
dalam hati

Senin, 01 Agustus 2011

Ramadhan, saat mengevaluasi diri

Tak terasa Ramadhan kesekian puluhtahun aku ulangi lagi. Apa ini akan jadi Ramadhan terakhirku? Entahlah.
Setiap aku melewati bulan ini, selalu rasanya ingin menangis. Mungkin saja aku hanya bisa melewati setengahnya, atau hanya sehari saja, atau hanya...
Apa bisa aku melewati sebulan penuh tanpa cacat dan cela? Lagi-lagi hanya pertanyaan.

Beruntung Allah memberikan satu bulan yang penuh berkah dalam setahun. Satu bulan yang harusnya aku jadikan cermin untuk memperbaiki tingkah laku, perkataan, dan perbuatan untuk masa depanku, dan evaluasi masa laluku.

Satu bulan yang harusnya memperbaiki resolusi hidup yang akan aku jalani. Mau jadi apa aku, dan untuk apa aku hidup. Sebagai muslim, semua tujuan hidup adalah untuk mencari ridho Allah dengan tidak melupakan hubungan antar sesama makhlukNYA.

Aku hanya berharap yang aku lakukan di bulan ini membekas pada kehidupanku yang akan datang. Belajar benar-benar ikhlas, melepas semua yang aku cintai hanya untuk Allah. Mengingat bahwa semua yang ada di dunia ini milik Allah. Sebetulnya yang mempengaruhi kehidupanku adalah rasa takut bukan pada Allah.

Ketakutan yang datang karena pengaruh perkembangan jaman. Aku takut tak dapat mengikutinya. Aku takut kehilangan orang-orang yang aku cintai. Aku takut tak dapat bertahan. Aku takut ditinggalkan. Aku takut sendirian. Padahal Allah menghadirkan aku ke dunia ini sendirian, dan kelak aku akan pulang sendirian. Tertanam dalam tanah pengap, sendirian. Hanya cacing-cacing dan bakteri pemakan bangkai yang menemaniku, menguraikan ragaku kembali menjadi tanah. Lalu rohku akan dihadapkan pada sidang pertanggungjawaban...sendirian.

Seharusnya rasa takutku adalah untuk Allah. Takut Allah meninggalkanku makanya aku harus lebih dekat denganNYA. Takut Allah membenciku makanya aku harus benar-benar mencintaiNYA. Takut Allah tak menghiraukan perbuatanku, makanya aku harus berbuat baik dan mencari perhatianNYA. Ketakutanku pada Allah seharusnya menjadi kecintaan pada Rabbul 'alamin.

I can only pray to Allah to be able to feel the pleasure of Ramadhan next year.
In order to return prostrate before God, begging Allah's forgiveness and get guidance.
Ramadhan...please, be mine forever.

Survivors running fast, may Allah accept our deeds. Ameen.

Selasa, 14 Juni 2011

Pesan untuk masa lalu




aku tak pernah bisa melepasmu
walau kau jauh
jiwa kita satu
tak terpisahkan
disaat rindu menggebu
kau rasa hal yang sama
aku
tak pernah mengijinkan
kau meninggalkan hatiku
biarlah bayangmu beranjak pergi
asal tidak hatimu

Harusnya ada kamu, tapi kamu masa lalu. Seperti titik-titik hujan yang menetes.
Di balik kegaranganmu, ternyata kamu gampang tersentuh oleh hal-hal kecil yang mengharukan, meneteskan air mata bukan berarti cengeng, itu menandakan kamu masih punya hati, dan hatimu lembut.
Semalam gelap berbisik perlahan, aku masih punya harapan. Tak sekedar masa lalu, kau adalah masa depanku.

Selasa, 24 Mei 2011

Tersi(k)sa

bulan mengintip di sela awan hitam
tampak lelah dan mengantuk
saat mimpi segera terlelap,bulan merintih
kedinginan
awan tebal tak sanggup hangatkan jiwanya

bulan mengetuk mimpi
perlahan mereka bertemu
walau tak saling sapa
gelap peluk keduanya
hangatkan galau
tersisa

Sabtu, 23 April 2011

Abenx

entah cerita itu bermula dari mana
saat hujan pertama tercium bau coklat
lalu senyum bulan sabit hiasi malam
dan purnama yang bulat bersinar terang
kilau bintang jadi penganan
manisnya tak hanya sampai tenggorokan
tapi terasa sampai ke hati
saat mengucap kata Abenx



Kamis, 14 April 2011

Kupu-kupu terbang

kupu-kupu ini terbang
ulatnya ia tinggalkan
jauh sebelum menjadi kepompong
indah kepaknya tak pernah hinggap
di dedaunan
kupu-kupu ini terbang
tak kembali


Rabu, 06 April 2011

Girl









Girl...
you stayed there
stared at the sun, the stars,
and my shadow

Girl...
you are standing there
waiting for me
looking for the last episode of our game

A girl was standing there is me
a girl, you were looking for

Kamis, 17 Maret 2011

Pecundang

berat melangkah
kaki ini terseok
enggan menatap
borok masih penuhi tubuhku
entah malu
aku tersedak
berhentilah beri harap

Rabu, 25 Agustus 2010

Doa

Ya Allah,
Engkau perintahkan kami bersujud agar kami tahu
kami tak pernah punya apa-apa
tak Kau ijinkan kesombongan berhak kami pelihara
karena kami memang makhluk tak berdaya
Engkau biarkan kami merasa lapar agar kami menjadi manusia yang bersabar
karena semua Engkau yang tentukan

Engkau ijinkan kami banyak meminta
untuk memohon rido dan ampunanMu
Engkau buat kaki kami berlari berlomba menyambut berkahMu
Engkau bolehkan kami mencuri
mencuri waktu di tengah malam saat orang lain terlelap, mengambil air wudlu dan shalat
berharap Engkau menaikkan derajat kami menjadi makhluk yang mulia

Engkau beri kami tangan yang dapat kami kepal dan buka
terkepal disaat membela agamaMu
terbuka disaat kami harus memberi tanpa mengingat apa yang telah kami lakukan
serta menerima dengan tidak melupakan bantuan orang lain
jadikan kami orang yang pandai bersyukur

setiap detik yang bergerak menjadi pengingat dosa yang kami buat
berilah kami kekuatan untuk bertempur,
berperang melawan nafsu yang tak henti meracuni hati kami
agar kami memperlakukan hati ini dengan mengucapkannya dua kali, menjaganya agar tak patah, mempertahankannya supaya tetap murah, membuatnya selalu rendah
tidak tinggi pernah tinggi

Ya Allah,
Engkau tak pernah tidur, tak pernah lepas mengawasi kami
Jagalah kami selalu agar tetap berada di jalanMu
karena walau kami tak pantas berada di surgaMu,
tapi kami takut nerakaMu

Kamis, 03 Juni 2010

Sadar

Jam ngantukku bergeser dari 10 malam ke sebelas
siang?
sungguh terlalu!
pantas saja aku tak bisa membuat mulutku berbusa
mencaci sepuasku
memaki sesukaku
karena mataku tertutup
sedari siang

2 June 2010
[22.00]

Waktu dan luka

orang bilang waktu akan menyembuhkan luka apapun
tapi dalam beberapa hubungan, luka akan terasa semakin dalam seiring dengan berjalannya waktu.
Apa luka yang kita alami akan semakin dalam atau tersembuhkan?
Entahlah…hanya waktu yang bisa menjawab semua…
walau kau tak tahu, aku akan selalu ada untukmu
walau kau tak terima, aku akan siap membantumu
sampai aku tak ada,
sampai waktu tak lagi berbicara
karena kau tahu kesempatan yang aku punya hanya sesaat
setelah itu mungkin sesal yang tersisa…

29 May 2010
[22.45]

Rabu, 28 April 2010

Mentari Pergi Berenang

Pagi ini mentari tersenyum padaku
ramah sekali…
ternyata dia ada maunya
katanya dia ingin pergi berenang ramai-ramai
dengan temannya.
Aku biarkan mentari pergi berenang sendiri
Mungkin dia gerah dan ingin bersenang-senang dengan kawan-kawannya
aku tak akan bertanya apa mentari bisa nyaman
berada di kolam renang
ah…biarkan dia bermain
menikmati air yang sejuk menembus kulitnya.

27 April 2010
[13.05]

Senin, 22 Februari 2010

Gerimis Tak Pulang Malam Ini

Gerimis malam ini tak pulang
menanti pagi sendirian
mengembun di antara rerumputan.
Rintiknya merdu
laksana nyanyian dewi-dewi kahyangan
walau bintang-bintang tak menyinari nyanyiannya
dan awan hitam tak pernah bosan
selimuti langit malam
semakin kelam
bahkan kepak sayap kelelawar
terdengar syahdu
seperti merayakan sesuatu
temani sepi yang merayap
di dinding hati

Gerimis malam ini tak pulang
menanti mentari esok hari
di sela rerumputan.

19 February 2010
[21:09]

Jumat, 25 Desember 2009

Menunggu Salju Turun di Gurun

Menunggu salju turun di gurun itu hal yang mustahil. Tapi kalau Tuhan sudah berkehendak, semuanya bisa saja terjadi. Sama seperti menunggu salju turun di negara tropis. Tapi lagi-lagi, kalau Tuhan berkehendak bisa saja salju turun menghiasi negeri ini. Kenyataannya memang demikian. Aku temukan salju ada di dalam dirinya. Ada dalam diri kekasihku. Salju yang lembut dan putih.

Dia dingin, tak pernah memberi respon mode on smile. Tak pernah memberikan respon ceria seperti matahari pagi yang aku suka. Dia seperti malam yang memberi kesunyian dan ketenangan. Berada dalam peluknya adalah ketenangan. Selalu ingin beristirahat dan damai yang aku rasakan. Aku bisa begitu santai dan tenang bercerita padanya. Dia seperti malam, diam dan tak pernah memberi komentar. Tidak seperti kalau aku tulis apa yang aku rasakan di status facebook langsung dikomentari yang aneh-aneh. Dia itu seperti kertas yang tak pernah habis. Tempat aku menumpahkan tinta warna-warni.

Mencintai dia seperti mencintai gunung es. Mencintai dia perlu perjuangan, karena sulit untuk mencapainya. Gunung es sangat jauh dari sini. Kalaupun ada di negara ini, letaknya sangat tinggi. Dan itu bukan gunung es. Di sini hanya ada gunung yang berselimut es. Ada di puncak Gunung Dieng, atau harus pergi ke Puncak Jaya Wijaya di Papua. Gunung es bisa mematikanku. Saat aku meraih puncaknya, aku bisa saja mengalami hypothermia dan terkulai lemas kekurangan oksigen.

Mencintai dia perlu perjuangan karena sulit untuk mencairkannya. Saat aku peluk esnya meleleh, lalu menyeretku dengan alirannya yang semakin deras, karena semakin panas semakin mencair. Atau saat memeluknya dia bekukan setiap gerakku. Aku tahu dia punya sisi kelembutan yang susah untuk dimengerti. Di luar tampak garang, tapi dia punya hati yang lembut, persis seperti salju. Aku bisa berguling-guling nyaman di atasnya. Membuat bola atau melemparinya dengan salju lembut itu, lalu tertawa senang melepas rasa yang ada.

Saat dia tersenyum aku akan bersorak dan girang setengah mati, karena senyumnya sangat indah seperti matahari pagi yang sukar dijumpai bersinar di negara subtropis. Terlihat bulat dan jelas, memberi kehangatan, dan waktu yang tepat untuk beraktifitas. Senyumnya aku bekal sepanjang hari, lalu aku simpan agar ketika malam menjelang kehangatan senyum itu tetap kurasakan.

Saat dia berbicara aku hanya bisa mendengarkan. Tak kuasa untuk memotong pembicaraannya. Yang aku dengar adalah kalimat-kalimat manis menentramkan jiwa, tak pernah menghardik atau mengecewakanku dengan kata-kata kasar. Sayang aku tak pernah mendengarnya bernyanyi. Dia tak pernah mau bernyanyi untukku. Aku tak tahu alasannya mengapa dia tak pernah mau bernyanyi untukku. Mungkin aku akan terbuai mendengar suaranya yang merdu, atau telingku akan rusak karena ternyata dia punya suara yang lebih jelek dari bunyi kentutku.. Atau mungkin saja dia tak hafal satu pun lagu yang ada. Sebodoh itukah? Tapi aku tak peduli dia mau bernyanyi untukku atau tidak, yang aku tahu dengan pasti dia ada untukku. Aku menerima kekurangan dan kelebihannya dalam situasi dan kondisi apapun.

Dia seperti malam yang menyelimutiku di kegelapan sehingga aku tak pernah merasakan takut akan dia tinggalkan. Dia seperti malam yang menemani sepiku dengan suara jangkrik dan semua binatang nokturno lainnya sehingga malamku tetap ramai dan ceria. Dia seperti malam yang membungkus kebisuan dengan irama degup jantungnya. Ya, nyanyian hatinya lebih indah dari melodi apapun yang kudengar. Walau dia tak ada di hadapanku, kehadirannya selalu bisa kurasakan. Dia seperti malam yang membalut mimpiku dengan berbagai kisah. Aku tak takut menghadapi setiap mimpi yang harus aku jalani karena saat terjaga dia memelukku erat.

Menunggu salju turun di gurun bukan hal yang mustahil. Tentu saljunya akan terasa hangat. Lembut dan hangat. Putih dan bersinar. Tak akan kubiarkan salju itu mencair dan mengalir. Tak akan kubiarkan salju itu menghanyutkan asa yang aku semai di dalamnya. Tak akan kubiarkan salju itu menghilang karena sinar matahari memanaskannya. Tak akan kubiarkan salju itu hanya meninggalkan jejak keindahan. Tak akan kubiarkan salju itu menjadi uap lalu huf...melebur dan meluruh dengan angin, dan terbang, pergi entah ke mana. Tak akan kubiarkan aku menunggu sia-sia salju yang aku harapkan selama ini. Justru aku akan menjaganya agar dia tetap ada selama bumi masih beredar pada porosnya.

Mencintainya membuatku lebih lengkap. Membiarkannya pergi akan jadi bencana terbesar dalam hidupku. Aku mencintainya sepenuh hati, tak peduli panas atau hujan. Tak terpengaruh siang atau malam. Tak terhalang jarak dan waktu. Tak tergantikan perubahan musim.

On the spring, summer, winter, even it fall, the snow is always be there in my heart and in my live. There’s no reason to move out, looking for the place where full of snow. When you left, I lost apart of me. When you are gone I’m gonna fade away. Coz this is our faith, coz we belong together. I’ve been waiting all my live for the moon comes in the day. I’ve been waiting all my live for the sun will shining my darkest sky. I’ve been waiting all my live for the snow falls right in front of me. I’ve been waiting all my live only just for you.

We’ll be fine across the line. I know you have your own way to love me. I enjoy everything you do. Because I know you love me like I do, and I wish this could be forever. It’s not impossible to wait for the snow fall on the desert coz the snow will always fall down everywhere all the years.

25 Desember 2009

Minggu, 20 Desember 2009

PANGGUNGKU TOPENGKU

Layar mulai dibuka
hamparan luas panggung tanpa batas
awali sebuah peristiwa
dengan hiasan
warna indah-indah
memoles mata dari tiap sudut
Topengku kenakan
dan tak akan pernah lepas hingga
peran tuntas,
menari riang, bergerak kesetanan
mengumbar ceracau hingar
yang mestinya tak terdengar
Dialog demi dialog terucapkan
diiringi senyum, bahkan tawa
dan penonton tak pernah tahu
tulus atau menghina
anggap tolol mata yang lugu
Dialog-dialog berikutnya
penuh kepalsuan,
berkerudung dengki, mengalun merdu
buai jiwa-jiwa yang kosong
Sang sutradara terdiam awas
mata jeli dan nyalang memrotes
peran gamang aktornya
semua tahu dia bijak
sebab telunjuk tak pernah terlihat galak
tapi bisa bikin wajah-wajah
di balik topeng
tertunduk
Panggungku, topengku
hanya tampak dari balik
proscenium
sedangkan tepinya
kotor berdebu
Sang sutradara tersenyum
dia yang bikin semua aturan
Semakin mendekati akhir
dialog yang terdengar makin hambar
seolah mulut bertopeng tersumbat
kalimatnya sendiri
sampai angin berhembus dari kegelapan
mengantar udara berbau busuk
tapi hidung-hidung manja tak henti
menghirupnya
tanpa sadar, paru-paru penuh sesak
oleh debu dengki
sampai nafas terhirup
hanya satu-satu
Kini topeng terlepas
dan panggung kembali tertutup layar

24 September 1993
Makasih banyak Kang Teddy buat semua masukan dan kritikmu
Aku t lupa kalo kemaren situ ulang taun ya…

Minggu, 06 Desember 2009

PERGI MENONTON SIRKUS

Tersenyum…pagi ini.
Ah, sesuatu yang lama sekali tidak aku lakukan akan aku lakukan lagi.
Pergi menonton sirkus.
Ada banyak hiburan aneh yang tersaji di sana.
Terakhir aku menonton sirkus umurku 5 tahun.
Waktu itu bapak yang mengajakku.
Senang sekali melihat binatang-binatang pintar beratraksi,
berakrobat, melakukan aksi menantang yang aku saja belum tentu bisa melakukannya,
bahkan tak mau melakukannya. Dan manusia beratraksi…mengerikan!
Waktu nonton sirkus sama bapak aku bisa ngumpet di balik ketiaknya saat melihat atraksi menakutkan.
Bapak tertawa dan berkata: itukan hanya akal-akalan saja!
Pura-pura? tanyaku heran, kalau pura-pura mengapa begitu nyata di depan mata.
Aku bergidik takut melihat seorang lelaki mencoba memotong lidahnya dengan golok tajam. Hebat! Lidahnya kebal, tak terpotong.
Kembali aku terkesiap melihat seorang gadis kecil seumurku [saat itu] digantung di atas api. Gila! Dia tidak apa-apa.
Lalu [saat itu] aku berpikir, mereka tidak akan masuk neraka.
Alasannya adalah mereka akan kebal disiksa, lelaki itu lidahnya tak akan mempan dipotong walau ia banyak berbohong. Gadis kecil itu tak mempan dibakar walau kelak dia menyebarkan kemaksiatan.
Aku ingin belajar sirkus! Supaya kalau masuk neraka aku aman karena sudah berlatih!
Bapak tertawa. Beliau tidak menertawakan aku.
Aku tahu karena aku tanyakan alasan kenapa bapak tertawa.
Beliau bilang karena hidup itu memang lucu! Itu hanya akal-akalan saja.
Manusia banyak akal? Termasuk kalau dia masuk neraka? Apa akalnya akan dipakai?
Membodohi Tuhan supaya memasukannya ke dalam sorga. Menyenangkan!
Jadi yang bodoh siapa?
Apa Tuhan mau dibodohi ciptaannya?
Aku mau membodohi Tuhan, tapi bapak bilang itu sama saja dengan membodohi diri sendiri! Tuhan kan tidak bodoh!
Aku jadi ingat pepatah yang mengatakan Allah bisa karena biasa, tentu saja bapak yang mengulangnya untuk mengingatkan aku.
Aku bisa melakukan apapun kalau aku biasa melakukannya.
Bapak…aku hanya bisa menyusahkanmu dan ibu!
Aku biasa melakukan itu dan hanya itu yang aku bisa!
Beratraksi seperti binatang-binatang sirkus itu? Berakrobat seperti pemain sirkus yang tak akan masuk neraka atau disayang Tuhan?
Terlalu jauh! Aku mau disayang bapak dan ibu saja walau bisaku hanya menyusahkan kalian. Aku tersenyum, karena tak perlu berlatih keras untuk mempunyai keahlian ini.

Tersenyum pagi ini…
Ah…sirkus yang menyenangkan, menghibur sekali.
Seperti menghibur hidup yang harus aku lewati. Bermain sirkus!
Dan bukan hanya menonton sirkus.
Aku bisa beratraksi dengan kemampuanku.
Aku tak mempan dibakar karena aku tak pernah mau melakukan hal itu.
Aku tak pernah mau dekat-dekat dengan api karena mencium asapnya saja sudah sangat muak.
Hey…api itu melahap tubuh saudaraku!
Memisahkan aku darinya, padahal dia tidak sedang beratraksi menantang maut!
Dia bekerja untuk keluarganya. Dia memanggil temannya, tak ada yang menyahut, tak ada yang peduli. Temannya berlari hanya menyelamatkan diri sendiri.
Bapak…aku harus bertanya pada siapa karena kini kau tak ada lagi?
Kemana aku harus mencari jawab saat aku kehilangan saudaraku?
Sedih? Tidak! Itu sudah lewat beberapa tahun yang lalu.
Dulu aku sedih karena tak akan bisa bertemu saudaraku lagi. [saat itu] Dia seperti barbekyu!
Dimasukkan ke dalam peti lalu dikubur!
Barbekyu yang tak laku lagi karena terlalu gosong!
Sebuah atraksi sirkus yang gagal! Tuhan tidak sayang dia.
Lupakan!

Tersenyum…pagi ini.
Aku akan menonton atraksi sirkus yang lain.
Aku bertumbuh lebih besar lagi, otak dan tubuhku berkembang.
Aku tampak seksi dan ehemm…menggairahkan!
tapi masih tetap takut melihat atraksi sirkus ini.
Bapak mengingatkan aku [saat masih ada] kalau hidup adalah atraksi yang lebih rumit dari sekedar berakrobat! Bukan hanya akal-akalan saja!
Bapak, atraksiku gagal…
Untuk beratraksi sempurna tanpa kesalahan dan membuat orang yang menonton takjub perlu berlatih.
Aku melihat atraksi kehidupan yang lebih rumit. Mereka kurang berlatih sehingga hasilnya tidak sempurna. Dan aku tahu mereka akan memberi alasan: tak ada yang sempurna di dunia ini! Bapak aku mau melewatkannya saja.
Huh! Itu kan hanya alasan mereka. Seperti bapak bilang, hanya akal-akalan saja!
Mau dibodohi!
Kalau aku tak mau dibodohi, kata bapak jangan membodohi diri sendiri!
Cari saja kesempuranaan dengan berlatih, aku bertumbuh sangat tak sempurna.
Bapak…andai kau mau temani aku lebih lama menonton sirkus berulang-ulang, melakukan atraksi sirkus berulang-ulang, menertawakan kesalahan atraksi sirkus yang gagal berulang-ulang…merenungkan apa yang kita hadapi berulang-ulang.
Ah…bapak, engkau membodohi aku dengan pergi begitu saja. Aku berulang-ulang memanggilmu. Aku harus senang karena tahu bapak yang gagal melakukan atraksi ini atau harus sedih karena bapak gagal mencapai kesempurnaan?

Tersenyum pagi ini…
Aku tahu aku tak pernah gagal melakukan atraksi apapun. Apalagi atraksi kebodohan.
Aku tak pernah mau membodohi diriku sendiri, karena hidup itu seluruhnya atraksi sirkus yang harus terus dilatih untuk mencapai kesempurnaan.
Tersenyum walau kenyataannya aku gagal melakukan atraksi hidup, tapi aku tak akan mengakhiri hidup! Terus beratraksi bukan untuk membodohi siapapun.
Tersenyum, tak butuh latihan keras dan bukan hanya akal-akalan saja.
Aku tersenyum bapak, walau tidak pernah tampak sempurna, dan bukan untuk menghindari neraka.
Aku tersenyum untuk pagi ini, untuk hidup ini…
Tak perlu lagi pergi,
untuk menonton sirkus!

Cipaganti, 6 December 2009
Kupersembahkan untuk hidup ini, untuk teman-teman yang menyayangiku
Kita sedang beratraksi teman, walau kita bukan pemain sirkus.