Tampilkan postingan dengan label s(t)orry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label s(t)orry. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juli 2018

Usang




untuk senja berhias senyum jingga
maafkan cintaku
telah mengoyak
keluguanmu




Senin, 03 Oktober 2011

The best I have

Dan aku tak pernah menyesal mencintaimu. You aren’t my best I ever had because you are my best that I have forever. Aku bangga bisa mencintaimu. Kebanggaan itu tak akan pernah aku buang.

Kamu bukan masa laluku, yang kita jalani belum juga dimulai. Petualangan kita belum usai, hubungan yang kita lalui belum teruntai. You are my hope, my heart, my everything. Suatu saat nanti kau akan tau mengapa kita selalu terhubung. Suatu saat nanti kau akan mengerti mengapa kita tak pernah saling melupakan. Just like what I said: you were born to be mine, I was born to love you, belong to me is your destiny.

So when I told you I love you, memang begitu, sebab hanya kamu yang aku mau. Saat bibirku tak mampu berucap, hatiku tak diam. Dia tetap memberimu cinta. Pelukku akan tetap menyambutmu. Dan tanpa kita sadari ternyata ada banyak kesamaan yang bikin kita cocok. Percayalah aku akan menjagamu, menyayangimu, mencintaimu tulus sepenuh hati, selamanya.

1.10.2011

Jumat, 23 September 2011

kangen itu...

Sulit menjelaskannya ketika emak kembali bertanya, “Mengapa hubungan kalian bisa putus?”
Nah itu, Mak. Aku sendiri tak tahu pasti. Kalau saja aku bisa duduk berhadapan dengannya, aku pun akan menanyakan hal yang sama seperti yang emak tanyakan barusan.

Beberapa kali aku minta bertemu, mengajaknya berbicara, memastikan bahwa kami baik-baik saja…semua ditolaknya. Sepertinya yang telah aku lakukan memang tidak termaafkan. Aku tak tahu apa dia benar-benar membenciku atau egonya yang terlalu tinggi yang menjadi tembok penghalang hubungan kami. Lagi-lagi aku tak tahu pasti.

Emak kangen, aku juga. Tapi apa dia juga merasakan hal yang sama? Apa dia juga kangen sama aku, Mak? Aku hanya berharap rasa kangennya padaku memuncak hingga ubun-ubun agar egonya sedikit mengelupas lalu kian menipis. Kalau sudah demikian mungkin saja rasa kangen yang kita rasakan terhapuskan.

Tak ada yang tak mungkin di dunia ini kan, Mak? Apapun bisa saja terjadi atas ijinNYA selama kita mau berusaha. Usaha aku keras, Mak. Entah usahanya. Tapi aku yakin kalau aku dan dia akan baik-baik saja karena aku masih menyayanginya.

Selasa, 14 Juni 2011

Kerinduan

“Ted? Kaukah itu?”
Tak ada sahutan. Angin menghempaskan daun pintu dengan keras. Tak mungkin Ted. Dia itu seperti bayang-bayangku sekarang. Terlihat di tempat terang tetapi tidak nyata. Untuk apa aku masih terus mengharapkan Ted?

Kalau dia memang takdir cintaku, segalanya akan terasa mudah. Tak hanya memandangnya. Aku akan bisa memeluknya, memiliki hatinya, menikmati tubuhnya, merasakan kedamaian saat bersamanya.

Suatu hari Aeri -temanku- iseng meramal dengan tarotnya. Katanya aku kamu “apa-apain”. Benarkah itu, Ted? Apa itu yang kamu lakukan agar aku selalu ingat kamu? Karena kamu memang tak ingin melepasku? Anehnya, kata Aeri kamu pun sama denganku. Selalu ingat aku, bahkan sempat terpikir olehmu untuk bercerai dengan Debby, tapi berat oleh anak-anakmu. Niat menjadikanku istri kedua, tak hanya istri simpanan seperti rencanamu tempo hari.

Aeri sempat bertanya apa yang akan aku lakukan. Ya…aku pun bertanya pada diriku sendiri, apa yang akan aku lakukan? Apa aku mau jadi istri keduamu? Ya Tuhan…pilihannya masih terlalu berat. Aku tak akan sesumbar mengatakan “TIDAK!” khawatir ladang ibadahku memang untuk mengabdi padamu. Tapi akupun tak akan bilang “BERSEDIA!” yang mungkin saja itu hanya emosi sesaat karena rasa rinduku dan keinginan untuk selalu bersamamu, Ted.

Entah mengapa cinta yang aku rasakan padamu tak juga surut. Entah mengapa hati ini selalu memilihmu, Ted. Aku tak bisa kalau harus menghapusmu dari hatiku. Kita sama-sama keras kepala. Kamu bilang masih sayang aku. Ayolah, Ted…yakinkan dirimu bahagia dengan Debby dan biarkan aku pergi.


Ted, dua kali pernikahanku tak bertahan lama. Aku tak mendapat keturunan dari Bob maupun Lilian. Itu semua aku lakukan karena aku menginginkanmu sepenuhnya. Padahal kalau kamu sadari, aku sama seperti perempuan lain. Aku rindu menjadi seoran gibu. Kalau saat ini kamu pandangi Debby bersama anak-anakmu, tolong sadari bahwa aku pun rindu berada di posisi itu. Aku ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak dan suamiku. Saat aku pulang kerja, aku rindu seorang pria yang aku panggil ‘ayah’ menjemputku dengan senyum paling manis yang meluruhkan rasa lelahku. Akupun mengharapkan seorang pria yang berjuang sekuat tenaga, bekerja keras demi hidupku dan anak-anakku. Aku merindukan masa-masa yang saat ini kamu rasakan dengan keluargamu karena aku perempuan.

Dan ramalan itu…kartu tarot Aeri bilang ada perempuan dan pria lain…”STOP!”
Aku tak ingin jadi istri kedua, tapi aku pun tak ingin jadi penghancur rumah tanggamu, Ted. Tolong singkirkan ramalan dan seluruh rasa penasaranku. Aku ingin melangkah lebih leluasa dengan atau tanpamu sehingga kerinduanku menguap, melebur dengan hawa bahagia.

Kamis, 14 April 2011

Proses

Aku tak pernah suka phonecell-ku berbunyi malam-malam. Entah itu untuk telpon atau hanya sekedar pesan singkat saja. Tapi aku tak pernah mematikan benda itu. Phonecell-ku akan tetap aktif. Aku bukan berasal dari jenis nokturno sehingga malam hari adalah waktu untukku berhibernasi. Sayangnya sekali aku terjaga, sulit untuk kembali memejamkan mata.

Seperti malam itu, dering telpon membangunkanku. Nana terisak di seberang sana sambil langsung berbicara, "Kecurigaanku benar, Mey!" dalam isaknya. Kemudian, "Kemarin malam Dody datang lagi, feelingku mengatakan untuk mengikuti mereka. Dan..." kali ini Nana tak dapat menahan tangisnya.

Dari tangis Nana aku mengerti apa yang dia rasakan. Perihnya menggigit.
Nana itu pacar Harry, sepupu yang paling dekat denganku. Biasanya tidak Harry tidak Nana selalu bercerita setiap kali mereka bermasalah dengan hubungan mereka. Kali ini tidak demikian, ada yang Harry sembunyikan dariku. Walau demikian aku mendapat gambaran apa yang terjadi antara kedua orang terdekatku itu. Nana yang menceritakannya.

"Mey, coba tolong aku, paling tidak tolong sepupumu!"

"Ya Na, tanpa dimintapun aku akan bantu. Aku sayang Harry dan tak ingin dia terperosok lebih dalam lagi."

############################################

"Sudah lama kau lakukan itu, Ry?" Harry tak segera menjawab pertanyaanku, malah menatapku lama, "Hey!" aku mengingatkannya dan hanya dibalas senyum kecut.

"Delapan bulan!"

"Apa yang kau cari?"

"Sama seperti apa yang kau cari dari Ted."

Jawaban dingin Harry membuatku tersentak. Entah apa yang harus aku katakan. Kalau menyangkut Ted itu berarti menyangkut perasaan yang tak dapat digambarkan. Sulit untuk diungkapkan. Ya Tuhan...sebesar itukah yang Harry rasakan pada Dody?

"Ry, hubungan kamu dengan Dody bukan hanya dipertanggungjawabkan pada Nana, tapi juga pada Tuhan."

"Bukankah Tuhan yang menumbuhkan rasa ini, Mey? Seperti yang selalu kamu katakan."

"Ingat keluarga, apa kamu tak melihat bagaimana perasaan orang tuamu? Cinta memang anugerah Tuhan, makanya Dia mempertemukanmu dengan Nana. Mungkin kehadiran Nana memang untuk membantumu keluar dari semua ini."

"Mey, bicara memang mudah. Coba kalau kamu jadi aku...apa yang akan kamu lakukan? Gak ada selain tersiksa dan menderita..."

"Kalau benar kamu merasa tersiksa dan menderita, tinggalkan Dody, kembali pada kami!"

"Tidak mudah, Mey. Aku berusaha untuk kembali, tapi semua butuh proses!"











Apa memang semua butuh proses? Ketika cinta tumbuh untuk orang yang telah dipilih oleh hati...itu juga proses? Apa proses itu pula yang membuat Harry melakukan hubungan sesama jenis?
Memang bukan suatu kesalahan bila proses itu membuat sakit banyak orang. Dan memang tak ada yang perlu disalahkan. Tidak juga ada yang harus menghakimi apa yang telah Harry lakukan. Tidak juga aku.

Proses itu berjalan dengan sendirinya, seiring dengan berjalannya waktu. Hanya niat baik untuk kembali pada hal yang benar yang bisa menyelesaikan masalah Harry. Ya...aku tak berhak melarangnya. Aku hanya bisa mengingatkan dia, tak lebih. Sebab aku pun memang tak lebih baik darinya.
Dan aku pun hanya ingin tidurku tak lagi terganggu dering telpon.

Semua aktifitas hidup butuh proses.

Jumat, 08 April 2011

Mencintai dan Dicintai Sepenuhnya



















Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga.
Peribahasa itu ada benarnya Ted, buat aku. It's just like "you can run but you can't hide". Perkawinanku dengan Lilian tak lagi bisa dipertahankan. Memang Lilian menerimaku apa adanya, tapi tidak menerimamu dalam perkawinan kami.

Aku mengaku salah. Tapi tak mau menyalahkan diri sendiri. Kamu tau Ted kalau perasaan ini tidak datang dengan sendirinya. Aku tak menyesal harus berpisah dengan Lilian. Aku pun tak harus mengasihaninya. Walau Lilian mencintaiku, aku tidak. Aku bahkan menyiksa perasaannya.

Ted, aku melepas Lilian karena aku sayang sama dia. Lilian sudah bekerja keras meyakinkan hatiku, mencoba memupuk cintaku agar tumbuh di taman hatinya. Aku tak bermaksud untuk membohonginya. Tidak juga sedang berpura-pura. Aku hanya tak ingin menambah besar luka Lilian.

Ted, cinta tak bisa dipaksakan bukan? Empat bulan hidup bersama Lilian, cinta itu belum juga hadir. Aku berupaya menghilangkan jejakmu dengan menikahi Lilian. Tapi sama saja, betapa berat bebanku dengan melakukan hal seperti ini.

Waktu itu Lilian tau aku masih sangat mencintaimu. Dia membantuku untuk coba melupakanmu. Dengan besar hati Lilian menerima hatiku yang masih penuh oleh nama dan segala ornamen tentangmu. Sekarang pun Lilian tau kalau aku masih sangat mencintaimu.

Tidak mudah bagiku untuk tinggal bersama orang yang tidak aku cintai, tapi dia sangat mencintaiku. Aku tak mau terus hidup dalam tekanan. Aku tau, kau pun mengalami hal yang sama. Bahkan bebanmu lebih berat karena ada Safitri dan Nala yang mengikatmu. Terlalu banyak pertimbangan yang harus kau pikirkan. Hubungan yang tak pernah bisa kau putus, dan kau tak akan pernah bisa meninggalkan mereka.

Ted, aku berani berpisah dengan Lilian dan berharap dia menemukan orang yang mencintai dan dia cintai dengan tulus. Suatu hari dia pernah bilang padaku bahwa untuk dicintai sepenuhnya, harus mencintai sepenuhnya pula. Aahhh...Lilian, aku tak bisa mencintaimu sepenuhnya.

Kini aku menikmati kesendirianku Ted, menanti seseorang yang akan mencintaiku sepenuhnya dan aku cintai sepenuhnya.

Sabtu, 26 Maret 2011

Jalan-jalan
















"Di tempat biasa!"
"kayaknya mau hujan lho, Ted!"
"Kalau hujan?"
"Kamu tahu aku benci hujan!"
"Ya...tulisanmu jelas sekali berbicara kalau kamu benci hujan. Bahkan kata-katamu jelas sekali kalau kamu benci hujan hahaha...!"
"Gak lucu!"
Dan pembicaraan pun terhenti.

Baiklah. Aku tahu tempat biasa itu di mana. Aku dan Ted memang biasa ke sana. Nikmati sore, nikmati secangkir...ups bukan secangkir, bahkan bisa beberapa cangkir kopi. Kebiasaan yang sama yang mungkin saja menguntungkanku. Menikmati kopi dan wajah kekasihku.

Kekasih? Apa masih pantas Ted kupanggil kekasih?
Aku dan Lilian. Ted dan Debby. Aahh...aku cinta Ted setengah mati. Masa bodoh sama masalah lain.

Barusan Ted menelpon untuk bertemu di tempat biasa. Mencuri kesempatan untuk bertemu. Hindari Lilian dan Debby.

Hujan mulai turun...ini situasi yang paling tak aku suka. Aku tak pernah suka hujan. Walau Ted memaksa, coba menjelaskan, coba merayuku agar suka hujan, terima kasih! Ted jatuh cinta pada hujan, aku...benci hujan. Perbedaan yang menyatukan kami. Menyatukan?

Sejak kapan aku bisa bersatu dengan Ted? Aku hanya mencuri kesempatan untuk bisa bertemu dan menatap matanya. Aaahhh.... hanya untuk bisa bersatu dengan Ted saja susahnya minta ampun. Ted, apa yang kau pikirkan sekarang?

Waktu terus bergulir. Lilian belum juga pulang kerja. Debby? Entah apa yang sedang dilakukan perempuan itu di Yogya...menjaga anak-anaknya mungkin. Hujan lebat aku terobos. Demi Ted.

Lama tak kulihat Ted. Kemana dia? Ah, lebih baik aku telpon dia saja...atau...ya telpon dia saja.
"Ted, aku sudah di tempat biasa itu, lho! Kamu di?"
"Ya...ampun sayang! Aku kira kamu tak jadi pergi karena hujan! Aku masih di hotel nih, seharian ini aku migren. Kamu bilang kalau kamu benci hujan!"
"Aahh Ted...aku bilang kan benci hujan, bukan membatalkan rencana kita!"
"Kamu marah, ya?"
"Nggak! Hanya kecewa sama janji kamu!"
"Ya sudah...nanti kalau mau janjian lagi, telpon aku ya!"

Aku tutup telponnya, berlari keluar membasahi diri dengan air hujan. Aku berusaha bisa mengenal hujan dan mendekatkan diri padanya. Berjalan-jalan di bawah siraman hujan, siapa tahu kecewa ikut mengalir bersama derasnya hujan yang tetap belum aku sukai.



(ada yang mau kasi komentar??? silakan)

Kamis, 17 Maret 2011

Dan indahnya pagi...











Secangkir kopi hangat selalu tersedia sebelum aku membuka mata. Wow! Wow! Wow! Tak bosan selalu kata itu yang kuucap setiap kulihat hal yang sama berulang. Setiap pagi.


Aahh...Ted, mengapa kebiasaan itu kini berulang pada sosok lain. Bahkan aku tak pernah menginginkannya. Sudah aku bilang ratusan kali kalau aku hanya ingin kamu. Titik. Tanpa koma, tanpa alasan.

Seutas senyum disertai kecupan hangat dari lelaki tampan yang sudah 2 bulan ini melakukan kebiasaan itu. Menyenangkanku. Lelaki yang setiap malam menemaniku tidur, memelukku, bahkan membuatku melayang hingga...entah ke mana. Walau sebenarnya aku tak senang, tetapi lelaki ini telah layak aku panggil suami.

Ya Ted. Aku menikah dengannya bukan untuk membalas dendam padamu. Aku mencintainya? Hummm...apa itu cinta kalau aku selalu mengingatmu. Bahkan disaat kami melakukan hubungan sakral dalam perkawinan, aku mengingatmu.

Aku terperanjat, sudah jam 7 pagi. Pantas saja kalau aku mulai merasa gerah. Matahari sudah mulai meninggi, panasnya membangunkan mimpi. Wow! Secangkir kopi hangat mengepulkan aroma yang menggoda hidungku, "Ted!" panggilku.

Lelaki itu mengecupku lembut, ah...morning coffee..."Ted?"
"Bukan, sayang! Aku suamimu, Lilian!"

Senin, 14 Maret 2011

Sisa sore











Sore masih menyisakan tetes-tetes air hujan yang sebelumnya turun lebat sekali. Matahari kembali menyeruak di sisa-sisa jam kerjanya hari ini. Setengah cangkir machiatto caramelo masih menggoda selera. Aku meneguknya. Nikmat!

"Nikah sirih, ya?" tanyaku mengulang. Dia hanya mengangguk. "Kenapa kamu egois sekali?"

"Ayolah, ini satu-satunya jalan agar kita tetap bersama. Aku akan bersikap adil!"

Sumpah mati Ted, aku cinta sama kamu. Perasaan ini tak bisa ditutupi. Setelah 11 tahun tak bertemu, perasaan itu masih sama.

"Kamu cinta istrimu? Sayang anak-anakmu?" aku kembali bertanya.

"Sayang anak-anak, ya. Mereka darah dagingku! Ayolah...aku menikahi istriku tanpa cinta, Mey!"

"Ted, perempuan mana sih yang mau dimadu? Nggak ada! Termasuk aku! Kalau kamu bilang dulu menikah tanpa cinta, lalu kenapa bisa hadir Safitri dan Nala?"

"Mey...kamu tahu bukan kalau laki-laki tak perlu cinta untuk melakukan hubungan sex?"

"Berarti kamu tak menghormati istrimu!"

Ted tersenyum mendengar perkataanku. Ya Tuhan... 11 tahun lalu senyum itu pernah memikatku. Cerita yang teramat rumit dan kini senyum itu masih sama. Satu tahun ini kami dipertemukan kembali. Lewat mantan suamiku.

"Aku kan sudah cerita kenapa aku menikahi Debby." bela Ted, "Kalau kamu akan bercerai dengan Bob, dari awal aku pacarin kamu!"

"Hey, Bandung-Yogya bukan jarak yang dekat. Lagipula saat itu hanya kepincut senyummu saja kok, Bob masih lebih keren dari kamu!" aku mencibir.

"Iya, waktu itu. Sekarang?" kembali Ted memamerkan senyumnya, "Mau ya, Mey!" kwmbali Ted memohon.

"Ted sayang, aku cinta sama kamu beneran. Tapi aku juga butuh pengakuan. Nikah sirih bukan jalan keluar yang baik buatku. Jadi kamu harus putuskan, aku atau Debby?" Ted terdiam. Mungkin aku terlalu memaksa.

Benar aku mencintainya, dan tak ingin berpisah lagi dengannya. Tapi untuk nikah sirih? AAAhhh.... Ted, mengertilah. Aku tak mau jadi perempuan simpanan. Aku juga tak mau jadi perusak rumah tangga kalian walau sebenarnya dalam hatiku berteriak agar kau segera bercerai dengan istrimu.

Sisa-sisa hujan sudah tak tercium. Machiatto carameloku juga sudah habis. Cappuccino Ted masih bersisa, seperti peluknya yang makin erat. Peluk Ted masih bersisa untukku walau sebentar lagi dia harus kembali ke Yogya, kembali ke pelukkan Debby, istrinya.

Sabtu, 12 Maret 2011

Proses kembali



Mungkin memang lebih baik kamu tak kembali. Dan tak ada yang perlu dikembalikan, Ted. Sama halnya seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir. Mereka tak akan pernah kembali ke hulu, tapi terus mengikuti aliran sungai hingga tiba di laut lepas. Bebas merdeka.

Sama halnya seperti hujan. Mereka turun dari langit, dan ketika menginjak tanah tak kembali lagi ke langit. Ada yang memilih merembes masuk ke dalam tanah. Ada pula yang ikut-ikutan mengalir membanjiri jalanan, lalu masuk ke parit, mengalir lewat selokan untuk kembali bermuara di laut.

Sama halnya seperti bumi yang berputar mengitari matahari, selalu ke depan tidak berputar berbalik arah. Membuat hari-hari yang baru, yang tak sama seperti kemarin. Sama halnya seperti waktu yang tak pernah kembali ke masa lalu.

Ted, kita sudah berjalan dengan arah yang kita pilih. Kita sudah nikmati apa yang kita inginkan masing-masing. Tak lagi saling mempengaruhi. Mungkin memang ada baiknya seperti itu. Kamu ingat, Ted...sebelum kita bertemu, kita adalah dua pribadi yang tak saling kenal. Lalu di antara waktu perkenalan kita yang hanya sesaat, adakah manfaat yang kita dapat? Tidak ada, bukan?!

Aku tahu Ted, kamu hanya mengenalku saja tanpa pernah menganggap aku seseorang yang istimewa, bahkan hanya sekedar teman pun tidak. Padahal kamu tahu kalau aku mengharapkan lebih dari itu. Ternyata untuk urusan ini kamu punya pilihan lain. Ya...aku tak memaksa sebab hidup itu hanya pilihan, bukan?

Ted, ada satu hal yang aku sayangkan. Mengapa kamu pergi tiba-tiba disaat kau tanamkan harapan besar. Aku menolak untuk berpisah denganmu. Segala cara aku lakukan untuk mempertahankamu. Tapi semuanya sia-sia. Apa memang aku sama sekali tak berarti apa-apa untukmu? Lalu kamu bilang semua butuh proses. Termasuk untuk dekat denganku lagi? Aku bekerja keras agar kau tak pergi, Ted.

Dan kini, di saat aku nyaman dengan keadaanku yang jauh darimu, kamu mengusik hari-hariku. Sandiwara macam apa lagi yang akan kamu perankan sekarang? Hatiku baru saja pulih, jangan torehkan lagi luka baru di sana. Aku perempuan yang mudah terluka. Hatiku bagai kaca, mudah pecah. Aku tak mau kembali jadi kepingan-kepingan kecil yang mudah untuk ditiup lalu...menghilang. Aku tak mau merasakan sakit yang sama.

Awalnya kita tak saling mengenal, mungkin akan lebih baik kita tak pernah saling kenal. Seperti yang kamu ucapkan tempo hari, "Butuh proses untuk kembali."

Butuh proses yang lama untuk pulih kembali, dan aku tak mau mengulanginya lagi.

Minggu, 06 Maret 2011

Kupu-kupu Di Atas Bantal

Cahaya mentari menyeruak tanpa permisi dari balik jendela. Pagi mulai menyapa dunia. Membangunkan seluruh jagat untuk segera beraktifitas, termasuk aku. Seekor kupu-kupu tiba-tiba mengepakkan sayapnya, di telingaku.


Aneh, masuk dari mana kupu-kupu ini. Kecil, berwarna coklat dengan motif batik yang anggun. Sungguh luarbiasa. Sepertinya kupu-kupu ini tidak terganggu oleh bau ilerku, oleh kibasan tanganku. Aku tersenyum.

Katanya kalau ada kupu-kupu masuk berarti akan ada tamu. Hmm.... siapa yang akan bertamu mengunjungiku? Kamu? Hey...sudah lama kita tidak saling mengunjungi, bukan? Aaah...aku kangen sekali sama kamu. Kabarnya kamu pindah, kemana?

Kupu-kupu itu seolah tak mau beranjak, seperti enggan untuk jauh dariku. Dia terdiam di atas bantal. Sayap mungilnya mengepak sebentar saat kusentuh, lalu sayap itu terbentang lagi dan diam. Dia tetap cuek waktu aku merapikan tempat tidur. Mbok ya bantuin beres-beres kek, atau setidaknya ajak aku ngobrol, lah.

Aku ingat kalau kamu sangat suka kupu-kupu. Kamu bilang kalau kupu-kupu iti adalah suatu proses perubahan yang sempurna. Tidak hanya metamorfosis paling sempurna yang dialami serangga tapi lebih pada kamuflase kehidupan yang berubah positif. Bahkan sangat positif. Telurnya yang menempel banyak di bawah daun sungguh menggelikan. Larvanya yang disebut ulat lebih dari menjijikkan, mengganggu, dan merusak. Candamu waktu itu menyadari keberadaannya tidak disukai, kupu-kupu bertapa merenungkan diri di dalam balutan kepompong. Berusaha introspeksi diri agar bisa memberi yang terbaik. Tak lama dia berubah menjadi sosok indah dan mengagumkan. Kamu bilang waktu itu intinya dari kesalahan kita bisa berbuat sesuatu yang indah dan mengagumkan.

Ingatanku itu membawaku pada satuhal, kamu pernah menulis sebuah puisi tentang kupu-kupu. waktu itu aku tak mengerti apa yang kamu tulis. puisimu tertulis seperti ini:
kupu-kupu kecil terbang
menembus langit
lalu menghilang
di tempat aku bersemayam
kepak sayapnya lembut
selembut pesonanya tatkala ia kembali
jangan pernah kau biarkan pergi
itu jiwa lembutku yang datang
menjagamu

Berulang aku membacanya, rasa tak percaya menyelinap dalam hatiku. Apa benar kupu-kupu itu kamu yang selalu ingin menjagaku? Kamu yang...Ya Tuhan...Apa benar kamu telah pergi meninggalkanku, selamanya?

Mataku terasa hangat. Bukan karena mentari yang semakin tinggi dan tetap memaksa masuk melalui celah-celah kecil jendela kamarku. Pandanganpun buram, air mata menetes. Aku menangis.

Mentari memang beranjak semakin tinggi, panasnya membakar kulit bumi yang kian keriput. Aku biarkan kupu-kupu coklat kecil itu tertidur di atas bantal. Walau itu mungkin hanya seekor kupu-kupu dan bukan arwahmu, tapi aku tahu kalau kamu akan selalu ada dalam hatiku.

Sabtu, 26 Februari 2011

SKY



Langitku biru, dan setiap menatapnya ada perasaan lega. Mungkin karena aku suka warna biru makanya aku suka langit? Atau sebaliknya? Aku suka langit karena berwarna biru?
Ahahahai...yang pasti aku suka warna biru dan langit. Tak peduli langitku berwarna oranye, merah muda, hijau, merah, bahkan hitan sekalipun.

Langit adalah keajaiban Allah yang maha Tinggi. Bagaimana tidak, di atas sana langit terbentang luas tanpa ada tiang sekecil apapun. Tak juga ada pilar besar yang menopangnya. Walau demikian, langit bisa ditempeli aksesoris. Ada matahari yang bersinar terang, bulan yang redupnya bikin damai, bintang yang tak henti berkelip, planet-planet yang ikut menghiasi langit dan banyak benda langit yang mungkin aneh dan asing buat kebanyakan orang.

Menatap langit sama dengan menatap masa depan. Tinggi, tak akan tergapai jika kita hanya berniat tanpa berusaha untuk menggapainya. Aku terbiasa menatap langit.

Setelah terbiasa menatap langit. Aku mulai mendengarkan langit. Di sana ada banyak keceriaan. Banyak sekali yang aku dapat dari mendengarkan langit, mulai dari musik, cerita, inspirasi, hadiah, bahkan teman. Hampir tak pernah aku mendapat kesedihan. Justru mendengarkan langit kesedihanku sirna. Hanya senyum dan tawa yang menemani hari-hariku yang telah lalu saat aku mendengar langit.

Kini cerita seru itu segera berlalu. Langitku tidak runtuh. Mungkin hanya disimpan di suatu tempat dan akan dibentangkan lagi pada suatu saat. Tak akan ada kesedihan walau tak lagi akan aku dengarkan. Dari sana aku bisa mengembangkan apa yang ada dalam diriku.

Seperti langit yang menjulang tinggi. Hamparan harapan tercipta dan tersambung.
Langit yang tinggi tak membuatku gentar meski aku takut ketinggian. tak membuat kering, tak membawa tangis, hanya menyisakan beribu kenangan yang akan tersimpan rapi dalam kotak di sudut hati ini.


Senin, 14 Februari 2011

Kasih Sayang itu...










Win masih kesal. Nafasnya terlihat naik turun. Wajahnya ditekuk, seperti siap memangsa apapun dan siapapun yang ada di hadapannya. Melihat gelagat tak baik ini Vera belum mau mendekat. Dia masih membiarkan Win dengan kemarahannya. Sebentar lagi Win pasti mau bicara, pikir Vera. Dan benar saja, tak lama Win memandangnya. Vera sudah tahu, adat dan kelakuan sahabatnya itu.

"Kenapa?" tanya Vera hati-hati.
"Aku kesal. Masa Dewa nggak ingat ini hari apa." sungut Win.
"Emang hari apa?" Vera balas bertanya.

Win menghela nafas kesal. Apa bodoh sahabatnya ini atau pura-pura bodoh atau ada sesuatu yang mengganggu otaknya, atau...Ah, banyak sekali kemungkinannya. yang pasti kenapa orang-orang kok malah tidak mengerti apa yang dia inginkan.

"Kenapa dengan hari ini, Win?" tanya Vera lagi, "Ini kan hari Senin. You don't like Monday itu sudah biasa. But I realy like Monday, and I like everyday in a week." Vera tersenyum.

"Ini kan tanggal 14, Vera!"
"Ya, ada apa dengan tanggal 14, Win?"

Kesal Win semakin bertambah. Tidak hanya Dewa, Vera pun sepertinya sangat tidak peduli dengan hari ini, "Inikan hari kasih sayang, Ver! Masa bukan cuma Dewa saja yang lupa. Kamu juga lupa."

Vera tertawa pelan. Jadi itu yang membuat Win sedari tadi menekuk mukanya, "Bukan hanya lupa, Win! Bahkan aku tidak tahu."

Vera berkata sambil tersenyum lembut, "Win, kasih sayang itu tidak perlu ditunjukkan dengan memberi coklat atau bunga, bukan? Dengan perhatian yang tulus pun kita tahu bahwa seseorang sayang pada kita. Contohnya Dewa. Aku yakin dia sayang sekali sama kamu walau dia tidak memberimu bunga atau coklat. Bahkan dia tidak memamerkan rasa sayangnya padamu di hadapan umum. Dia bersikap seperti itu karena dia punya prinsip dan tidak ikut-ikutan hal yang tidak jelas."
Win terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu, "Coba kamu lihat Si Septian. Dia memberikan bunga hampir ke seluruh perempuan yang kita kenal. Itu yang namanya kasih sayang? Itu bisa menimbulkan keresahan dan salah paham, Win. Lalu timbul fitnah. Nah itu bisa lebih berbahaya."

Win tertunduk malu. Dalam hatinya berkata, Ya, selama ini aku terlalu memaksa, bahkan untuk hal yang sebenarnya tak begitu aku pahami. Win dikejutkan nada sms ponselnya. Di layar LCD tertulis: Win, sebentar lagi aku jemput kamu ya. Lalu kita makan siang.
"Siapa?" tanya Vera
"Dewa. Terima kasih ya, Ver. Kamu telah membuka mata dan hatiku."
Vera tersenyum, "Sama-sama, Win."

Rabu, 09 Februari 2011

Bertengkar dengan Hujan

Malam sudah semakin larut, angin dingin membuatku merapatkan selimut.
Sebentar lagi kau akan pergi, meniti harapan, mencapai tempat yang lebih tinggi. Bahkan sampai di puncak. Tapi hati-hati, semakin tinggi tempat yang kau pijak semakin sempit. Jangan sedih ya, karena aku suka membayangkanmu. Walaupun kau pergi, bayangmu tak pernah beranjak dari kelopak mataku.

Sayup-sayup aku dengar rintihan hujan. Semakin lama suaranya semakin nyaring. Aaaah...mau apalagi dia. Ini waktunya beristirahat. Aku sudah capek dan sudah sangat mengantuk. Please, lah hujan...jangan ganggu waktu tidurku :((

Sepertinya hujan cemburu karena sedari tadi aku hanya mengingatmu, membayangkanmu, dan tak pernah melepas senyummu dari pikiranku. Hujan mulai mencari perhatian tampaknya. Kaki-kakinya yang panjang mengetuk atap rumahku perlahan. Tak aku hiraukan.
Lama-lama langkah kakinya mulai tergesa, terdengar berderap seperti ratusan ekor kuda berlari. Tetesannya mulai meronta di jendela kamarku. Hujan memaksa masuk. Dia mengiba minta dipeluk. Hujan tahu kalau malam-malam begini kau tak akan pernah datang. Mana bisa kau menolongku, terjaga sampai malam pun kau tak pernah bisa. Sebelum adzan maghrib berkumandang kau harus segera pulang. Aaah, kau hanya bisa memamerkan cahayamu yang terang benderang hanya pada waktu siang. Tapi aku terima keterbatasanmu itu karena aku pun tak sempurna. Karena aku mencintaimu.

Hujan mulai iseng. Tak hanya tetesannya yang meronta lewat jendela. Langkahnya mulai tergesa. Aku tidak takut hujan, tidak pula membencinya. Selama ini memang aku tak menyukainya karena dia selalu mendinginkan hangatku. Dia selalu membuatku terbaring, tak berdaya.

Ya, saat ini aku merasakan hal itu. Hujan mungkin mencintaiku. Dia mulai merembes masuk melalui celah antara lantai dan pintu. Makin lama semakin banyak. Hujan berhasil masuk dan memamerkan seringai kemenangan. Dia menghampiriku, meski aku tolak dia terus mendekat. Dia mulai memelukku. Semakin lama semakin erat. Aku takut tak bisa melihat senyummu esok pagi, tatkala kokok ayam membangunkanmu.

Peluk hujan makin rapat, hingga tubuh kakuku terangkat dan mengalir bersama arusnya. Entah ke mana.

Kamis, 03 Februari 2011

Di Antara Kepak Camar


Debur ombak kembali bangunkan lamunanku. Kupandangi paras lelaki tampan yang tertunduk sedih di sampingku. Tiba-tiba aku tersenyum melihatnya.
"Kok bisa ya..." gumamku
"Heh? Emhh.. Apa?" lelaki di sampingku kaget dan memandangku lama, "Kamu bilang apa barusan?"
"Kok bisa!" aku mengulang.
"Bisa apa?"
"Apa aja boleh..." candaku, dia tersenyum.
Ini yang aku suka dari lelaki tampan yang duduk di sampingku. Aku tahu dia penasaran, tapi tak pernah memaksa aku untuk memberitahunya.

"Masih sangat mencintainya?" tanyaku yang diiringi anggukannya, "Apa sih yang bikin kamu begitu mencintainya?"

Sesaat dia tidak menjawab. Ditatapnya camar yang liar menyambar ikan demi memuaskan perutnya. Angin semilir menyejukkan kami, lalu dia menatapku kembali, "Standar seorang lelaki mencintai perempuan adalah karena parasnya. Cantik! Standarku mencintainya karena aku mencintainya. Tak ada alasan khusus, tak ada sesuatu yang istimewa!"

Wow! jawabannya keren sekali, "Iya, tapi apa yang bikin lo begitu cinta sama Lavie sampai begitu putus asa begini."
"Dia lain!"
"Lain karena dia bisa selingkuh dengan beberapa pria sekaligus?"
"kok sinis gitu, sih?" mendelik.
Aku terkekeh melihatnya mendelik. Aku pikir Lavie bodoh telah menyia-nyiakan Ega, lelaki tampan yang sekarang duduk di sampingku, menemaniku nikmati debur ombak yang begitu...romantis. Lelaki tampan yang usianya terpaut 8 tahun lebih muda dariku.

"Suamimu tahu kalau kau bersamaku sekarang?"
Aku lemparkan ponselku padanya, "Telpon dia biar lo yakin!"
Tak lama Ega mengembalikan ponselku seraya tersenyum. Gila, anak muda ini punya senyum begitu manis. Lalu tiba-tiba ada sesuatu yang menyeruak, menghentak hatiku. Lupakan! Debur ombak dan desir angin lebih indah dengan sesekali ditimpali siul camar yang ramai.

"Suamimu sedang selingkuh," candanya, "...dengan Lavie!"
"Sedang apa dia?" tanyaku penasaran.
"Menurutmu apa yang dilakukan seorang laki-laki pekerja pada jam seperti ini? Menggoda cewek-cewek yang lewat!" Ega, apa yang aku lakukan saat ini bersamamu, "Kalau suamimu selingkuh bagaimana?"
"Aku bisa bercinta sepuasnya denganmu!" candaku, dia kembali tersenyum.

Sayangnya pertanyaan itu mulai menggangguku. Ya, bagaimana kalau suamiku selingkuh. Entah apa yang akan terjadi padaku. Entah apa yang akan aku lakukan. Sama seperti Ega yang begitu mencintai Lavie, aku pun sangat mencintai suamiku walau 5 tahun perkawinan kami belum juga dikaruniai anak. Dia berhasil melengkapi kekuranganku, berhasil memeriahkan sepiku, menerangi gelapku, selimuti dinginku. Meski tak ada kesempurnaan, dia tak pernah membuatku menyesal.

"Menyesal tidak kalau kesempurnaan ini tak dilewati dengan orang yang kamu cintai?" tanya Ega pelan sambil mengecup keningku, aku menggeleng.

Kepak camar yang begitu dekat mengagetkan kami. Pantai ini sepi, sangat sempurna untuk menguntai sesuatu yang romantis. Seperti yang telah kami lakukan. Ega terkulai lemas meski dia tersenyum puas.
Dia membantu merapikan rambut dan pakaianku. satu ciuman terakhir mendarat lembut di bibirku, "Terima kasih." bisiknya

Kepak camar seolah mengamuk, siutannya berlomba dengan debur ombak. Aku terdiam di antara menyesal, bersalah, atau malah senang. Entahlah.

Rabu, 02 Februari 2011

Emak Kehilanganmu

"Teh, kok udah lama Theo nggak ke sini lagi?"

Emh...akhirnya pertanyaan itu Emak ucapkan juga, padahal sudah lama aku merancang alasan apa yang tepat untuk menjawabnya. Aku nggak pernah bisa bohong sama Emak. Pernah sekali aku lakukan itu, dan hasilnya Emak tahu apa yang aku lakukan.
Waktu itu aku tidak bekerja dan malah main-main sama Theo walau hanya nongkrong di Braga. Entah Emak punya indera keenam, atau hanya kebetulan saja, yang pasti aku nggak pernah bisa bohongin Emak.


"Mungkin sibuk siaran, Mak." jawabku berusaha tenang. Aku tidak berbohong, tapi aku belum jujur sama situasi yang sebenarnya.

"Ah masa sesibuk itu?" Emak tidak percaya. Six sense? Nggak tau ah, "Kemarin-kemarin dia masih suka minta dijemput. Siaran kan tidak menghabiskan waktu seharian." Iya Emakku sayang, tapi masalahnya Emak nggak tau apa yang terjadi, "Emak khawatir!"

Aku diam sama sekali tak tahu apa yang harus aku katakan. Apa bilang aja sama Emak sekarang? Atau...

"Emak sayang sama Theo?" tanyaku pelan.
Bukannya menjawab Emak malah menatapku tajam. Tampak raut kesal di matanya.

"Loh, kok malah nanya seperti itu. kalau khawatir itu artinya sayang. Kamu juga sayang sama dia, kan? Emak merasakan gimana rasanya jauh sama orang tua."

Aku sayang sama dia? Nggak tau juga. Apa sayang namanya kalau aku sudah melukai hatinya? Jelas-jelas dia marah sama aku dan langsung menolakku. Itu artinya kesalahanku fatal, dosaku mungkin tak termaapkan. Buat aku nggak masalah kalau memang harus berakhir seperti ini. Tapi Emak?

Aku heran, masa sih Emak sesayang itu sama Theo, padahal mereka baru bertemu beberapa kali saja? Waktu pertama kali mereka bertemu Emak bilang kalau beliau merasa cocok sama Theo. Dan Theo juga bilang begitu. Dia merasa klik sama Emak.

############################

Waktu berlalu tak berasa, aku pikir Emak lupa sama rasa kangennya. sayangnya itu hanya dugaanku saja karena ternyata Emak perhatian juga.

"Katanya Theo sibuk siaran, tapi kenapa belakangan ini malah gak pernah denger Theo siaran?" tanya Emak kembali. Nah loh, kena lagi.
Untungnya belakangan ini aku yang sibuk dengan pekerjaanku yang hampir menghabiskan 2/3 waktu. istirahat 8 jam benar-benar aku kejar supaya tidak tepar.

"Cape, Mak! Mana sempat denger, yang ada pengennya langsung tidur." jawabku
Aku nggak pernah insomnia, apalagi dalam keadaan sibuk seperti ini. walau pekerjaan banyak, tak pernah aku pikirkan. Terima kasih "situasi" yang kembali menyelamatkan aku untuk tidak berbohong sama Emak.

"Nggak sms atau telpon dia?"
Apa??? Bagaimana bisa sms atau telpon kalau nomornya saja sudah aku hapus dari kedua ponselku. Apa Emak benar-benar kangen sama orang ini? Huh! Mbok ya kangen saja sama yang lain lah kalau boleh nawar, jangan sama orang ini.

"Coba telpon dia, bilang Emak ingin ketemu!"
Haduh....mampus deh. Ah Emak. aku kan inget banget sms terakhirnya yang bahkan aku salin dan aku tempel dengan tulisan besar-besar supaya aku tetap ingat kalau:
...JANGAN PAKSA AKU UNTUK TERIMA KAMU KEMBALI...
Aku menghormati keputusannya Mak. Aku nggak akan maksa dia, bahkan aku berusaha untuk menghindarinya.

"Ayo telpon!"
"Sms aja ya, Mak. Kalau telpon takutnya ganggu. Siapa tau dia lagi siaran." bujukku dan untungnya Emak setuju.
Demi Emak apapun akan aku lakukan, termasuk mengingkari janjiku sama Theo untuk tidak lagi mengganggunya. Meminta nomor telponnya pada seorang teman yang tanpa curiga dia bertanya, "Hilang kereset, ya?" kali ini aku bohong. bukan ke reset teman, tapi aku hapus.

Beberapa kali sms tak pernah ada balasan. Apa nomornya salah, tapi aku konfirmasi pada teman yang lain nomornya benar, kok. Ya, dia sudah tak mau lagi berhubungan denganku.

"Sudah?" tanya Emak
"Nggak bales. Sibuk mungkin!"
"Masa sih?"
Aduh Emaaaaak. Aku tu sudah sangat malu. Untuk apa aku menghubunginya, toh diapun sudah tidak mau dihubungi. Apa yang bisa dia ambil kalau terus berteman denganku? Hanya luka dan perih yang akan terus terasa. Selain itu, tak akan ada manfaat, bahkan sudah terbukti kalau aku bukan teman yang baik untuknya.

"Mak kangen?" tanyaku, Emak mengangguk sambil tersenyum.
Apa aku juga kangen? Kalau iya aku kangen, tapi untuk apa rasa kangen itu? Tak pernah ada gunanya walau jujur ada sesuatu yang hilang dalam hatiku. Hanya... ya sudahlah. toh aku pun tak menyesal. Aku harus berpikir positif dan tidak kekanak-kanakan. Tak perlu memaksa.

"Ada masalah, ya?" Emak seolah tau apa yang ada dalam hatiku.
Aku pikir daripada terus berkelit, lebih baik aku ceritakan kalau aku sudah tidak ada hubungan apapun sama Theo. Hanya karena merasa bosan dan masalah sepele aku malah mengasarinya. Marah sama Theo dan melukai hatinya. Tak ada ampun. Maap yang dia beri bersyarat. Itu artinya...KREK! Tamat! Tak ada lagi simpati dan empati.

Emak menatapku dengan sangat kecewa. Katanya dia gagal mendidikku. Padahal Emak tidak pernah mengajariku begitu. Yang Emak ajarkan adalah bagaimana menyayangi dengan tulus dan berteman dengan baik.
Maapkan aku Mak. Emak tidak gagal. Emak tetap ibu yang hebat. Ketulusan Emak memang tidak bisa aku tiru, walau tau aku sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan Theo tapi Emak bilang tetap sayang sama dia dan merasa kehilangan setelah lama Theo tak pernah lagi menemuinya.