Senin, 09 Januari 2012

7 Januari


Pagi ini matahari bersikap lembut. Dia masih berselimut awan. Pancaran tangannya yang panjang tidak sampai menyentuh aspal sehingga tidak memantulkan cahaya menyengat. Mungkin matahari kedinginan. Semoga saja dia tidak menangis. Gawat kalau matahari menangis, rencana romantisku hari ini bisa saja tergerus habis oleh cucuran air hujan, tangis matahari.

Berawan saja cukup, tidak terik dan tidak hujan. Gerimis saja mungkin, agar sore nanti akan sangat romantis. Hari ini tidak akan hanya aku saja yang bahagia. Ada banyak orang yang turut berbahagia untuk pernikahanku dan Em sore nanti.

"Kamu kelihatan gagah sekali, Tom!" puji ibu. Aku tahu itu bukan sekedar pujian seorang ibu untuk anaknya. Itu bentuk rasa syukur ibu pada Tuhan yang telah menciptakanku.

Gugup, bahagia, khawatir, senang bercampur dalam hatiku. Mulai tanggal 7 Januarai ini aku akan berstatus suami Em, perempuan yang paling aku cintai di dunia ini. Sumpahku akan selalu mencintainya dalam keadaan apapun akan didengar banyak orang secara langsung, nanti sore.

Tak sabar rasanya menunggu nanti sore bertemu pujaan hatiku untuk terakhir kalinya sebagai pacar. Aku memegang ponsel dan bersiap menelponnya. Tapi...ah...aku ingin kejutan. Huh...rindu itu...Em, semenit pun rasanya jadi seribu tahun.

Dua jam menjelang keberangkatan kami tiba-tiba ponselku berdering. Em menelpon. rupanya dia yang tidak tahan untuk tidak menghubungi.

#################################################

"Saya terima nikahnya Emi Binti Ahmad Hidayat dengan mas kawin cincin emas seberat 7 gram dibayar tunai!"

"Syah, para hadirin?" tanya penghulu kepada para saksi yang disambut teriakan "Syaaaah!" yang diiringi sedu sedan, kepedihan, dan air mata sebagai saksi cinta setiaku dengan almarhumah Em yang baru saja menghembuskan napas terakhir di pelukanku. Istriku meninggal setelah aku selesai membacakan ijab qabul.

7 Januari ini entah aku harus sedih atau bahagia. Aku datang disaat seseorang harus pulang. Senyum yang siap tersungging di bibirku untuk para tamu undangan yang datang ternyata berubah menjadi tekuk kesedihan. Perempuan yang aku cintai tak pernah ada, untukku.



Mengenang 9 tahun kepergian Emi Carwan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar