Jumat, 18 Desember 2009

TAK ADA BAYANG – BAYANG

Laki-laki tua itu terdiam seolah mencari sesuatu yang hilang dan sangat sulit untuk ditemukan. Pemuda di sampingnya melihat tak acuh. Mungkin saja dia berpikir orang tua yang ada di dekatnya itu kurang waras. Sama sekali tak ada kerjaan memerhatikan orang yang juga tampaknya tak ada kerjaan lain selain clingak-clinguk kebingungan. Tanpa penasaran pemuda itu berlalu meninggalkan si lelaki tua.
Kembali duduk sendiri di bangku halteu yang juga tua menanti usia bertambah lanjut. Menunggui jaman yang semakin keras dan buas, yang bisa menerkam dirinya. Jaman yang bisa membuat manusia menjadi kanibal untuk mempertahankan hidup, mempertahankan kedudukan, bahkan hanya untuk kesenangan. Jaman yang membuat manusia menjadi tidak ramah. Hanya mengurusi kepentingan pribadi dan tak peduli dengan lingkungan sekitar. Yang penting kenyang, yang penting senang. Tak pernah peduli walau ulahnya bisa membuat orang lain berang.
Entah sudah tahun keberapa si lelaki tua menghitung setiap manusia yang transit di halteu itu. Entah sudah berapa ratus orang yang dia lihat, bahkan mungkin jutaan. Atau hanya puluhan orang karena kebanyakan wajah yang ia lihat sama saja dengan kemarin. Dan dengan kemarinnya lagi, bahkan dengan kemarinnya sepuluh tahun lalu. Yang membedakan adalah kerutan di wajah atau perubahan postur yang merupakan proses dari berputarnya waktu, manusia tumbuh dan berkembang. Tetapi tetap saja dia bisa mengenali wajah-wajah yang ia jumpai setiap hari. Mereka masih sama dengannya, belum bosan menggunakan halteu ini untuk menunggu bis dengan tujuan yang juga masih sama. Kalau orang-orang itu pergi dan akan datang keesokan harinya, lelaki itu tetap berada di bangku dingin yang sekarang mulai keropos karena perubahan waktu.
Tentu saja lelaki itu bukan pemilik halteu bis ini. Dia juga tidak tahu siapa yang membuatkan halteu itu untuknya. Seharusnya ada sekat-sekat kamar agar dia tidak kedinginan bila hujan turun, sekat yang memisahkan bangku untuk duduk tamu-tamu dengan peraduannya. Lelaki itu tidak tahu siapa orang yang begitu baik hati menyediakan tempat beristirahat walau jauh dari nyaman. Paling pemerintah. Tapi pemerintah yang mana…dia benar-benar tidak tahu. Tidak pernah ada orang pemerintah yang datang menunggu bis di tempatnya. Ya…orang-orang pemerintah itu tentu saja punya kendaraan sendiri yang akan mengantar mereka ke tempat kerja, ke tempat belanja, atau ke tempat hiburan saat mereka lelah mengurusi rakyat seperti dirinya. Disediakan tempat ini saja sudah cukup. Padahal beberapa kali dia dibawa kaki tangan pemerintah agar jangan merusak keindahan kota dengan tinggal di halteu itu. Dia dibawa kaki tangan pemerintah itu katanya untuk direhabilitasi atau dipulangkan ke kampung halaman. Lelaki itu pernah ngotot kalau kampung halamannya ya di sini. Di kota ini. Dengan berbagai alasan akhirnya dia bisa lepas dan kembali ke tempat tercintanya. Sungguh cerita yang menarik untuk anak cucu.
Cerita menarik untuk anak cucu siapa, sedangkan di dunia ini dia hanya hidup sebatang kara? Jangankan punya anak cucu, menikah saja belum pernah dia lakukan. Kalau pun harus menikah dia tidak mau kelak anak dan cucunya makan sampah seperti yang selama ini dia lakukan, memunguti sampah plastik yang dia temukan sekitar halteu lalu menjualnya untuk ditukar dengan makanan.
Ya, uang hasil penjualan sampah plastik hanya cukup untuk makan. Untungnya dia tidak perlu pusing membayar premi asuransi setiap bulan. Tidak perlu pusing memikirkan cara membayar listrik yang kadang tak terduga tiba-tiba tarifnya naik. Dia tidak perlu bingung membayar pajak kendaraan yang dia tunggangi. Karena sama sekali dia tak memilikinya. Mencari uang hanya untuk mencegah perutnya berontak. Hanya untuk mempertahankan hidup di jaman yang keras. Padahal dulu dia sempat mencicipi jaman perang melawan penjajah yang ingin menguasai tanah kelahirannya. Entah lebih keras mana hidup di jaman perang atau di jaman sekarang. Yang pasti keduanya dia jalani dengan berat, seorang diri. Tanpa keluarga dan kawan yang dapat dijadikan tempat berbagi kesenangan atau berkeluh kesah.
Kalau dulu dia harus bersembunyi agar musuh tidak melihatnya untuk bisa bertahan hidup. Sekarang, tanpa harus bersembunyi pun orang tidak pernah menghiraukan kehadirannya. Mungkin saja mereka melihat dan menyadari keberadaannya, hanya mereka tidak mau tahu kalau lelaki tua itu ada. Dia nyata dan perlu dipedulikan. Tapi seberapa penting dirinya. Orang-orang itu juga punya kepentingan masing-masing kalau harus mempedulikan dan memperhatikan dirinya.
Seorang perempuan muda menuju halteu itu, tentu saja bukan untuk bertamu menemuinya. Wajah perempuan muda itu belum pernah dia lihat sebelumnya. Dan tentu dia akan melakukan hal yang sama dengan yang lain, menunggu bis datang lalu pergi lagi meninggalkannya tanpa pernah menyapa atau hanya berbagi senyum dengannya. Entah besok mengulang kembali atau datang hanya sekali ini. Mungkin perempuan itu akan merasakan hal yang sama dengan orang-orang lain, terganggu dan tidak nyaman dengan keberadaannya.
Bukan dia tidak menyadari itu. Tapi sebagai warga Negara Indonesia dan penduduk kota ini dia juga merasa berhak berada di antara orang-orang yang hanya transit. Perbedaannya satu, mereka hanya singgah sedang dia tetap tinggal. Itu saja.
"Sendiri, Pak?"
Perempuan itu bersuara. Perempuan itu menyapanya. Ya…dia yakin kalau perempuan itu menyapanya karena tak ada lelaki lain yang pantas dipanggil bapak, bahkan di halteu itu hanya ada dia dan perempuan yang menyapanya. Tuhan, ternyata aku punya bayang-bayang. Lelaki itu tersenyum ramah.
"Tadi memang sendiri. Tapi sekarang berdua, Neng!"
Si perempuan itu tersenyum.
"Menunggu bis juga, Pak?"
"Tidak! Menunggu halteu bis ini!" lelaki itu tersenyum bahagia, karena selama ini tak ada satu pun manusia yang mau menyapanya dengan ramah seperti yang dilakukan perempuan itu. Kalau pun ada yang berbicara dengannya tentu dengan nada yang tidak mengenakan hati seolah dia bukan manusia.
"Bapak tinggal di sini?" intonasi perempuan itu bernada tidak percaya walau dijawab dengan anggukan kepala si lelaki tua.
"Saya ternyata punya bayang-bayang juga ya, Neng!?"
"Lho? Maksud bapak?" perempuan muda itu bertanya heran. Tentu saja setiap benda mempunyai bayang-bayang bila terkena cahaya. Walau bayang-bayang akan tetap sembunyi dan cenderung menjauhi cahaya.
"Neng, tahu benda apa yang tidak punya bayang-bayang?"
"Benda yang gelap?!" perempuan itu menjawab dengan ragu. Dan ternyata benar, jawabannya memang kurang tepat. Bapak tua itu menggelengkan kepalanya.
"Benda yang berada di tempat gelap!" bapak tua memberitahu jawaban yang lebih tepat dari pertanyaannya.
Perempuan itu tersenyum sambil beberapa kali menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat lelaki tua itu.
"Saya tidak berada di tempat yang gelap, bukan?" lelaki itu kembali bertanya.
"Tidak, Pak! Memangnya kenapa?" siang ini tidak mendung dan halteu itu tidak tampak gelap.
"Benda yang berada di tempat gelap tidak hanya tak punya bayang-bayang, bahkan tak terlihat. Orang tidak pernah tahu kalau di tempat itu ada benda. Karena tak terlihat, maka orang akan mengabaikannya, melupakan benda itu dan akhirnya hilang sendiri. Entah karena rusak atau dicuri orang yang lebih tahu atau karena ada terang maka benda itu diambil orang. Tapi benda yang tak punya bayang-bayang tetap terabaikan!"
Perempuan muda itu takjub mendengar perkataan si lelaki tua. Pakaian kumalnya menunjukkan dia bukan siapa-siapa, tak dapat berkata bijak atau dimintai nasehat.
"Bapak siapa?" tanyanya penasaran.
"Saya hanya orang yang menunggu halteu ini. Khawatir halteu ini dirusak orang. Sekarang banyak yang tak bertanggung jawab dengan mencabuti besinya untuk dijual!"
Entah lelaki tua itu menyadari atau tidak kalau kehadirannya di halteu itu juga merusak. Seperti yang kaki tangan pemerintah katakan padanya tempo hari, merusak keindahan kota. Perempuan itu tersenyum mendengar penjelasan pak tua.
"Keluarga bapak?"
"Orang tua saya sudah lama meninggal karena perang melawan Belanda. Dulu!"
Perempuan itu berpikir tentu saja sudah meninggal melihat fisik bapak sebagai anaknya sudah setua ini.
"Saya tak punya keluarga! Saya belum pernah menikah!"
Saat mengucapkan kalimat itu tampak ada perasaan perih yang terpancar dari matanya. Seolah dia hendak menceritakan masa lalunya. Ada yang mengusik hatinya yang selama ini terkurung dan dia rasakan sendiri.
Perempuan muda itu tertarik untuk bisa mendengar cerita lelaki tua yang baru dikenalnya.
"Tapi setidaknya bapak pernah mencintai seseorang?" Seraya menunggu jawaban, dia menatap tajam lelaki tua itu yang sekarang semakin terlihat sedih.
Lelaki itu mengangguk pelan, "Hanya karena saya tak punya bayang-bayang, dia pergi meninggalkan saya. Bersama lelaki yang bisa memberinya bayang-bayang!"
"Apa kekasih bapak masih ada sekarang?"
"Sekarang sama sekali dia sudah tak punya bayang-bayang, tenggelam dalam kegelapan yang abadi! Dan itu terjadi sudah sangat lama" pernyataan lelaki itu sangat misterius.
"Sudah…meninggal, Pak?" perempuan muda itu bertanya hati-hati, khawatir kembali menyentuh kesedihan lelaki itu lebih dalam. Tapi sebelum rasa penasarannya terjawab, bapak tua itu mengalihkan pembicaraan.
"Bisnya sudah datang , Neng!" lelaki itu menatap ke arah datangnya bis, "Hati-hati ada barang bawaan yang tertinggal. Di dalam bisa juga hati-hati dengan tangan-tangan jahil, jangan duduk di tempat gelap ya, Neng!" lelaki tua itu mewanti-wanti.
Kembali duduk sendiri di bangku halteu tua menanti usia bertambah lanjut. Menunggui jaman yang semakin keras dan buas, yang bisa menerkam dirinya. Tapi yang pasti dia yakin kalau dirinya punya bayang-bayang. Dia tidak berada di tempat yang gelap, di dunia yang gelap sehingga orang dengan seenaknya mengabaikannya. Dia tahu dirinya punya bayang-bayang makanya ada orang yang berbaik hati mendirikan halteu ini untuknya beristirahat. Walau mereka tidak saling kenal. Seseorang yang mungkin saja bayang-bayang orang itu tak dapat dia injak. Jangankan untuk menginjak bayang-bayang orang tersebut, melihatnya saja tidak mungkin. Dia tidak pernah beranjak dari halteu itu, mungkin saja suatu saat nanti, saat tubuh kakunya tak lagi punya bayang-bayang orang akan mengangkutnya dan melemparnya ke tempat sampah, seperti membuang bangkai tikus. Bukannya dikuburkan layaknya manusia. Lelaki itu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kelak.
Lelaki itu bukannya tidak berusaha untuk memiliki bayang-bayang, tetapi kehidupan yang keras memadamkan cahaya hidupnya sehingga terpaksa selama ini dia hidup tak punya bayang-bayang. Menunggu bangku halteu yang lusuh dan semakin lapuk karena perubahan waktu. Menjadi silhuet di tempat gelap dan tak terlihat padahal yang seperti itu yang harus diperhatikan untuk membuat hidup ini menjadi seimbang. Bayang-bayang ada karena ada cahaya.


uchie
Cipaganti, 7 Juni 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar