Jumat, 09 Juli 2010

Secangkir kopi sore yang cantik

Tak perlu banyak rayuan untuk memintaku menemanimu, nikmati secangkir kopi di kedai favorit berudara sejuk, bahkan dingin. Aku bersedia, kapan pun itu.
Menatap mentari sore berwarna jingga yang perlahan merayap pamit pulang keperaduan
kelak tergantikan pekatnya malam, sepekat kopi yang ada di depanku.
Harumnya menggoda hidung untuk terus menciumnya, aroma terapi yang menenangkan, menyenangkan.
Tak perlu kopi manis untuk temani sejuknya sore. Kopi yang manis tidak memuaskanku. Pahitnya bikin nikmat, lebih nikmat dari sekedar mencapai orgasme denganmu. Aku rasakan di tiap tegukan.

Secangkir kopi teman sepadan sore yang cantik,
seolah hidup tak seindah sebelumnya, atau memang warna-warni kehidupan yang indah tersamarkan hitamnya kopi yang sedang kunikmati.

Kalau yang aku nikmati begitu sempurna, syukurku pada Tuhan untuk kesempatan ini. Mengijinkan aku nikmati kopi yang pas racikannya dengan satu senyum di hadapan yang tak puas aku tatap di sore berwarna jingga.
Mentari pun ikut tersenyum tak mau kalah. Tampak lebih manis dari senyum priaku dan lebih bahagia dari senyumku.

Secangkir kopi di sore yang cantik akan terus aku simpan di satu sisi otakku,
terjaga di satu ruang hati supaya indahnya tak pernah pergi.

6 July 2010

1 komentar:

  1. aku berhenti minum kopi demi dia dan hr brtmbhnya usia.ingatkan aku jika status/smsku harum kopi. :p mungkin akan ku dptkan kafein dari teh atau coklat.Merasakan pahit utk sesuatu hal yg manis di depan tak apa.

    BalasHapus