Selasa, 17 Agustus 2010

Selalu ada alasan untuk mencintainya

Selalu ada alasan untuk mencintainya. Selalu ada cara untuk menyentuhnya. Selalu ada jalan untuk menggapainya. Selalu nyaman nikmati hangat peluknya. Selalu ada tempat untuk duduk berlama-lama dengannya, menatap indah senyum yang selalu dia pamerkan walau kadang perih menyeruak dari sinar matanya yang bening.

Saat keheningan tak lagi mau menemani, bimbangnya tak pernah muncul. Tegar kini tertulis sebagai nama belakangnya. Menghirup nafas kehidupan yang kian berat, tak hanya oleh debu dan polusi, tapi juga persoalan yang datang silih berganti. Air mata masih setia temani untuk luluhkan beban itu. Menguras seluruh emosi, mengembalikanku pada fakta: selalu ada alasan untuk mencintainya.

Angin yang tak henti menyibak dedaunan tak mampu menyibak mimpi yang kian menguat. Hamparan asa di depan mata membentangkan kekuatan untuk selalu berpijak pada alasan mencintainya, tak henti, sepenuh hati, tak terlelahkan, hingga batas waktu terlihat di ujung sana.

Meyakinkan diri pada sandaran yang aku butuhkan, tubuhnya adalah tempat yang nyaman. Kokoh namun lembut. Keras kehidupan menguatkan setiap langkah yang dijejaki. Setangkup rumit adalah arti merangkum semua penat yang menyapa, lalu mendeskripsikannya pada kanvas kehidupan. Satu-satu.

Tegukan rindu yang dia hidangkan dalam secangkir kopi kental terasa begitu nikmat. Ada pahit, ada manis, dan ada aroma menenangkan teraduk menjadi satu dalam larutan perasaan untuknya.

Dan hening kini menyanyikan sunyi, tak ada suara terdengar walau hanya sebuah bisikan bergumam. Dan mata tak lagi dapat melihat senyum gusarnya. Walau begitu…
selalu ada alasan untuk mencintainya.

16 August 2010
12.58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar