Senin, 16 Agustus 2010

Mengapa

akan selalu diucapkan bila seseorang tak mengerti sesuatu yang dimaksud.
Mengapa adalah pertanyaan yang dijadikan seseorang mencari jawaban atas sebuah atau beberapa persoalan ketidaktahuannya supaya dia tahu dan mengerti.
Dalam tata bahasa (bahasa apapun itu), setiap pertanyaan “mengapa” jawabannya harus menggunakan “karena”. Setiap “karena” merupakan alasan sebuah ketidakmengertian.
Nggak usah bingung sama tulisan saya ini. Saya hanya mengupas kata “mengapa” dari kacamata saya, “karena” memang ada suatu pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran saya.

Sering sekali saya mendapatkan pertanyaan “mengapa” padahal pertanyaan itu tidak perlu saya jawab. Atau karena memang tidak perlu dijawab dan tak pernah ada jawabannya.
Dan pertanyaan ini hadir karena suatu ketidakseimbangan terjadi pada diri manusia.
Belibet ya, kalimatnya? Hehehe… saya beri contoh saja:
“Mengapa harus saya yang mengalami ini?”
“Mengapa ini terjadi pada saya?”
“Mengapa ini tidak mudah?”
“Mengapa dia meninggalkan saya?”
Dan sering sekali saya mendengar pertanyaan: “Mengapa Tuhan tidak adil pada saya!”
Nah dari contoh-contoh pertanyaan itu ada yang memang perlu dijawab, ada yang tak perlu dijawab karena kita sudah tahu jawabannya. Pertanyaan terakhir harusnya tak pernah kita ucapkan karena kita sudah sangat tahu kalau Allah adalah Dzat yang MahaAdil. Allah sudah sangat tahu apa yang akan terjadi. Jangan berputus asa, bertawakal, dan ikhtiar karena Allah MahaMengetahui.
Pertanyaan yang keluar terkadang hanya untuk menguatkan kita mencari pembenaran atas suatu persoalan. “Mengapa…padahal…”

Setiap mengapa itu sudah rencana Allah.
Allah tahu yang terbaik untuk makhlukNYA. DIA tahu betul, karena DIA adalah Sutradara dan penulis skenario dengan takdir sebagai alur. Ya, takdir merupakan inti utama dari alur cerita yang Allah buat. Allah menciptakan dunia ini hanya sebagai tempat transit saja. Karena kehidupan sesungguhnya akan terjadi di akhirat kelak. Lalu “mengapa” kita tidak menjalani kehidupan ini dengan ikhlas? Bukankah tujuan manusia dihidupkan itu untuk mencapai ridho Allah?

Mari kita jalani kehidupan ini tanpa kata “mengapa”. Kalau memang tidak tahu, belajarlah. Kalau memang tidak mengerti, cari tahu inti masalah ketidaktahuan kita.
Nggak usah nanya mengapa, “karena” “mengapa” itu tokek.

16 Agustus 2010
0.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar